
Permasalahan Dupe dan Alternatif Brand Lokal yang Punya Value Lebih
Alih-alih memilih brand lokal yang berdalih dupe, masih ada brand-brand lain yang memiliki orisinalitas dan value berkelanjutan.
Di tengah derasnya arus tren global, nggak jarang kita menemukan fashion item yang langsung mencuri perhatian, baik itu dikenakan oleh artis, fashion influencer, maupun idola pop. Tapi kalau diperhatikan labelnya, banyak dari barang-barang ini ternyata berasal dari brand high-end dengan harga yang cukup bikin mikir dua kali.
Fenomena ini bikin banyak orang akhirnya berharap: “Ada versi lokalnya nggak, ya?” untuk versi yang vibes-nya mirip, desainnya keren, tapi lebih bersahabat harganya. Karena demand ini, mulai muncul berbagai brand yang dikenal sebagai inspired brands atau brand lokal yang mengadaptasi gaya dari rumah mode ternama dunia. Nggak heran kalau produk-produk seperti ini laris manis. Desain kekinian, harga terjangkau, dan gampang ditemukan. Bahkan banyak yang masuk ke kategori dupe brand, yaitu brand yang memproduksi barang secara massal agar bisa dinikmati pasar luas.
Tapi, di balik desain yang familiar dan harga yang ramah kantong, ada hal yang sering terlupakan. Produksi massal seperti ini memperkuat siklus buy–use–discard: beli karena lagi tren, dipakai sebentar, lalu ditinggal saat tren berganti. Produk yang diproduksi secara massal juga cenderung cepat rusak dan berakhir menjadi limbah. Masalah ini bukan lagi cuma soal isi lemari, tapi juga jadi beban lingkungan.
Baca juga: Jatuh Cinta Lagi dengan Sepatu Brand Lokal!
Nggak cuma itu, banyak dari brand dupe ini juga jalan di wilayah abu-abu soal hak cipta. Desain yang awalnya lahir dari ide kreatif seorang desainer bisa direplikasi begitu saja, tanpa izin, tanpa apresiasi. Ini jadi bentuk eksploitasi kreativitas, di mana ide orisinal disalin dan dijual besar-besaran hanya demi cuan. Sementara kreator aslinya nggak dapat apa-apa. Padahal, di luar sana banyak brand lokal yang udah naik level—nggak cuma adaptasi tren, tapi benar-benar bikin identitas sendiri. Mereka orisinal, punya cerita, dan yang paling kerennya, peduli sama cara produksi yang lebih etis dan sustainability.
Ada beberapa brand lokal yang menurutku checked all the positive boxes untuk kamu lirik:
Byo



Brand asal Jakarta ini memiliki ciri khas yang dikenal dengan desain eksperimental, dari bentuk, material, sampai statement-nya. Setiap tas feels like wearable art.
Get to know more about Byo from here.
SukkhaCitta



SukkhaCitta adalah sebuah brand pakaian yang memiliki konsep slow fashion, brand ini nggak cuma ramah lingkungan tapi juga memberdayakan perempuan di desa lewat proses produksi yang zero waste dan transparan.
Get to know more about SukkhaCitta here.
Sejauh Mata Memandang



Sejauh Mata Memandang merupakan brand yang memiliki ciri khas motif eksploratif dan mengangkat budaya Indonesia. Produk mereka sering tampil di film-film layar lebar dan selalu punya pesan soal sustainability di baliknya.
Get to know more about Sejauh Mata Memandang here.
Baca juga: Unveiling My Local Luxury Find: Ella & Glow Ellen Mini Bag
Melihat label-label brand ini kadang jadi sadar, kalau nggak apa-apa untuk spend little more pada produk untuk kualitas yang lebih bagus, yang dibuat dengan niat baik, desain orisinal, dan proses yang lebih ramah lingkungan. Kamu nggak cuma beli barang, tapi juga support sesuatu yang kamu percaya. Karena setiap kali kamu pilih brand lokal yang mindful, kamu sedang mendukung lebih dari sekadar fashion item. Kamu ikut menguatkan kreativitas orisinal, usaha kecil yang punya prinsip, dan ekosistem fashion yang lebih adil dan berkelanjutan.
Images: Courtesy of BYO, Courtesy of SukkhaCitta, Courtesy of Sejauh Mata Memandang



Ketiga brand itu favorit semuaaa❤️❤️❤️
Sejauh mata memandang, SukkaCitta brand lokal yg bisa dipake ke acara apapun, dimanapun, ada 1 baju sejauh mata memandang keknya udah 5tahunan lebih masih bisa dipake dan warna gak berubah, terlihat sederhana tapi istimewa ❤️❤️❤️