Schiaparelli Fall-Winter 2025/26 Haute Couture: Back to the Future

Schiaparelli membuka Paris Haute Couture Week tahun ini dengan cara yang anggun dan penuh kemegahan, seperti yang sudah jadi ciri khasnya.

Sebagai seseorang yang mengikuti dunia fashion cukup dekat, nama Daniel Roseberry selalu jadi salah satu yang langsung terlintas setiap kali ada yang bertanya, “Siapa desainer favoritmu?” Kehadirannya di Schiaparelli terasa sangat tepat, seolah memang ditakdirkan. Banyak yang setuju kalau Daniel Roseberry telah membawa couture ke arah baru yang lebih relevan di era sekarang. Karya-karya Roseberry di Schiaparelli bukan untuk mereka yang bermain aman karena a menghadirkan kemewahan, drama, dan visi desain yang berani serta tanpa kompromi.

Dan sekali lagi, Roseberry membuktikan kualitasnya. Koleksi Fall-Winter 2025/26 yang ia hadirkan untuk Schiaparelli benar-benar mencuri perhatian. Bertajuk “Back to the Future,” koleksi ini menawarkan interpretasi masa depan dari sudut pandang masa lalu, membayangkan seperti apa orang-orang zaman dulu membayangkan dunia yang akan datang.

Baca juga: Jacquemus Spring/Summer 2026 by Simon Porte

Palet warna koleksi ini memperkuat narasi tersebut. Dominasi hitam dan putih menjadi dasar visual yang kuat, dengan aksen merah yang intens sebagai penekanan. Warna-warna ini membingkai rangkaian busana yang penuh struktur, permainan volume, proporsi, dan referensi sejarah.

Di tangan Daniel Roseberry, architectural silhouttes tampil mencolok, mulai dari setelan ramping yang terstruktur, bodice yang sculptural, hingga detail-detail yang merujuk pada surrealism roots milik Schiaparelli.

Salah satu look yang paling banyak diperbincangkan adalah gaun satin merah yang dikenakan secara terbalik. Gaun ini menampilkan detail dada yang dibentuk serta kalung berbentuk jantung manusia, lengkap dengan rhinestone merah dan detail mekanik yang tampak berdenyut. Kalung ini merupakan hasil kolaborasi dengan seniman Spanyol, Carlos Alemany, dan oleh Roseberry disebut sebagai “the beating heart of couture.” Unik, mencuri perhatian, dan unforgettable.

Beberapa tampilan serba hitam dari koleksi ini juga patut mendapat perhatian lebih. Salah satunya adalah bustier saddle berbahan satin dan black lambskin, yang menjadi interpretasi modern dari siluet korset khas Schiaparelli. Potongan ini juga menjadi penghormatan terhadap gaya berkuda yang populer di era 1920-an.

Baca juga: Dior Menswear SS26 by Jonathan Anderson

Cape ikonik dari koleksi Elsa Schiaparelli Fall/Winter 1938-1939 juga dihadirkan kembali melalui tangan kreatif Roseberry. Cape tulle transparan berwarna hitam ini disulam dengan motif Apollo de Versailles dari arsip Maison Schiaparelli, menggunakan silver pearls, sequins, dan rhinestone, lalu disempurnakan dengan detail rambut kuda berwarna hitam di bagian ujungnya.

Salah satu look yang paling tak terlupakan adalah gaun bustier bertajuk “Eyes Wide Open,” yang seluruh permukaannya disulam dengan surrealism eyes lengkap dengan iris lukisan tangan di atas cabochon. Bagian belakang gaun ini dilengkapi dengan tumpukan tulle abu-abu yang menambah nuansa dramatis dan imajinatif. Sebuah pengingat yang kuat bahwa semangat surealisme masih menjadi DNA utama Schiaparelli, dan Roseberry tahu betul bagaimana menjaganya sambil tetap mendorong batas kreativitas couture.

Koleksi terbaru Daniel Roseberry ini adalah pelajaran tentang bagaimana menghormati sejarah sambil tetap berani membayangkan masa depan. Menurutku pribadi, koleksi ini bukan semata soal pakaian yang indah, tapi tentang cerita, imajinasi, dan emosi. Roseberry terus menunjukkan bahwa couture bisa menjadi sesuatu yang berani, bermakna, dan menyentuh. Menyaksikan visinya hidup di atas runway Schiaparelli terasa seperti menyaksikan sejarah fashion yang sedang ditulis, and I honestly can’t wait to see where he takes us next.

Image: Courtesy of WWD

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *