
Dior Cruise 2027: No Dior, No Dietrich.. No Anderson!
“The American women will accept the new fashions. You can never stop the fashions.”
– Christian Dior
Dior oleh Jonathan Anderson berlabuh di Kota Los Angeles untuk koleksi debut Cruise 2027-nya. Membawa kompleksitas ide-ide yang terasa tidak mengenal batas melalui runway dramatis di Los Angeles County Museum of Art (LACMA), tepatnya dengan latar galeri David Geffen yang terbaru.
Namun, ini bukanlah awal cerita dari kehadiran Dior bersama Amerika Serikat.
Dior dan Amerika Serikat
Di tahun 1947, Christian Dior bepergian ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Ia mengitari kota-kota besar di East Coast dan juga West Coast, termasuk Los Angeles, dan merasa sangat terinspirasi dengan keindahannya yang sangat berbeda dengan Paris. Pada periode inilah Dior juga mulai semakin dekat dengan dunia Hollywood dan para bintangnya, termasuk Marlene Dietrich yang kemudian menjadi salah satu perempuan paling identik dengan Dior di era tersebut. Marlene Dietrich terkenal dengan meminta wardrobe oleh Christian Dior untuk film Stage Fright dengan kalimat legendaris, “No Dior, No Dietrich.”
Christian Dior membuka “Christian Dior-New York” di Fifth Avenue pada tahun 1948. Membawa koleksi exclusive untuk Amerika Serikat ditambah dengan launching perfume di akhir tahun tersebut. Dari momen itu, kisah Dior dan Amerika Serikat berlanjut dengan segala bentuk kesuksesannya hingga pembukaan toko Rodeo Drive terbarunya di tahun 2026 ini.
Hollywood dan Californian Poppies

Untuk koleksi ini, Jonathan Anderson ingin menghasilkan A New Kind of Hollywood glamour yang terinspirasi dari masa kejayaan tersebut. Ia kembali menghadirkan berbagai evening gowns ala drapery dari koleksi couture yang loose dan full of drapes. Dibuka oleh tiga dress seragam dengan warna berbeda yang memiliki detail drop waist dengan detail appliqué 3D bunga.
Draped slip dresses dengan appliqué 3D bunga poppies California yang menggantung hadir dalam beragam versi bahan, tekstur, dan penempatan yang mengingatkan pada salah satu gaun Marlene Dietrich di film Stage Fright. Fluiditas dan gerakan dari setiap bahan yang berbeda menghasilkan efek yang berbeda pula, terutama pada material dengan shimmer yang terasa menghipnotis.
Appliqué 3D bunga poppies California juga hadir menjadi selendang, clutches, dan berbagai versi rok dengan drapes yang menyerupai sarongs. Stylist Benjamin Bruno sengaja menggabungkannya dengan Dior Bar Jacket yang menunjukan kontras visual, sekaligus kembali menekankan era baru Dior Jonathan Anderson yang ingin menghilangkan “stiffness” yang ada.
Baca juga: Lady Woven Bag: Interpretasi Baru Tas Iconic Dior
Bar Jackets untuk Cruise

Bar jacket untuk perempuan dan laki-laki kembali hadir, menjadi pengikat Dior yang old and new. Iterasi baru dari Bar Jacket hadir dengan bahan jacquard, dan wool classic yang menyerupai sebuah look yang pernah dipakai juga oleh Marlene Dietrich, atau juga yang hadir dalam versi long bar coat yang cool dan modern.
Fringed dan fraying bar jackets yang memiliki rok matching hadir dengan bahan yang memiliki efek shimmer yang sangat indah namun secara bersamaan menghadirkan sebuah kontras yang unik. Ada juga look yang dipadukan dengan celana jeans robek, namun detail robekan katun diganti dengan detail silver chains.
Muncul juga Bar jackets yang dilapisi sebuah layer fabric halus yang panjang menghasilkan efek jaket yang seolah mengambang dan menghantui, ini salah satu look yang cukup unexpected dan pastinya berkesan.
Menswear dan Topi Philip Treacy

Menswear yang hadir secara subtle menggunakan leather pants dan kemeja piyama, atau kemeja dengan graphic karya seniman Ed Ruscha yang dipadukan dengan ripped jeans, menambahkan nuansa punk rock Hollywood yang youthful.
Dior feather hats yang dipakai dengan menswear mencuri perhatian bahkan jauh sebelum Cruise Show-nya berlangsung, setelah sempat di-tease oleh Jonathan Anderson melalui akun Instagram pribadinya. Topi ini hadir dari hasil karya Philip Treacy, dengan berbagai versi tulisan dari “Star” hingga “Slow” dan juga “Buzz” yang menutup koleksi ini dengan sangat teatrikal. Topi tersebut juga terasa nostalgic dengan karya Philip Treacy sendiri untuk the late icon Isabella Blow yang bertuliskan “Blow”.
Baca juga: Dior Menswear SS26 by Jonathan Anderson: Pertemuan Sejarah, Eksperimen, dan Masa Depan

Untuk koleksi Cruise ini, Jonathan Anderson tidak hanya menghadirkan nostalgia Hollywood atau mengulang romantisme yang sudah dikenal dari Dior. Anderson justru terlihat masih terus membangun bahasa baru yang sedikit lebih sulit dicerna oleh pasar massal, dengan tampilan yang lebih cair dan kompleks. Sebuah arah baru yang perlahan menunjukan bagaimana Dior di bawah Jonathan Anderson ingin terus bergerak antara keindahan, drama, dan modernitas tanpa meninggalkan soul dari Christian Dior sendiri.
Jonathan Anderson memiliki canvas besar untuk debut Cruise pertamanya di Dior. Fokus pada menceritakan ulang, bukan mengubah Dior, dengan pola yang terus menekankan keseragaman dari musim ke musim namun tetap menghadirkan keberanian eksplorasi yang tidak terduga. Sebuah pendekatan yang terasa lebih relevan bagi Anderson sendiri maupun konteks keseharian kita saat ini, yang penuh dengan kejutan dan ketidakpastian.


Image: Dok. Dior, Dok. Maddy Rotman.


