
Personal Taste, Personality, and The Bags We Carry
Apa saja pertimbangan kamu sebelum membeli tas?
Saya tumbuh di keluarga yang sangat menyukai handbags. Bahkan sampai sekarang, walaupun saya dan kakak-kakak sudah tinggal di rumah masing-masing, tas tetap menjadi salah satu topik yang paling sering dibahas ketika kumpul keluarga atau bertemu Mama.
Sebelum hidup di pusaran informasi dari dunia digital yang didorong oleh algoritma; social circle, acara TV, film, majalah remaja baik internasional maupun lokal menjadi acuan tren di era 1980-2000an. Inspirasi didapat dari eksposur kami terhadap seleb atau model yang menggunakan tas brand dan tipe tertentu. Namun, sampai saat ini, satu hal yang masih berlaku adalah pemilihan tas benar-benar tergantung kepribadian kami masing-masing.
Contohnya, Mama saya tidak menyukai tas yang terlalu slouchy, lebih senang structured bag dan brand favoritnya adalah Hermès dan Chanel. Sementara saya kebalikannya. Saya suka sekali tas yang relaxed dan pastinya roomy, karena personally, barang bawaan saya banyak. Saya tidak membayangkan kalau daily bag saya menggunakan tas yang lebih structured. Tak heran kini wishlist saya untuk memiliki Bottega Venetta khususnya Hop yang ukuran small.

Selain soal bentuk dan estetika, saya juga mulai mempertimbangkan hal lain: apakah tas itu benar-benar cocok dengan hidup saya? Seberapa sering akan dipakai? Apakah hanya terasa exciting di awal, lalu berakhir tersimpan lama di dalam lemari?
Belakangan, saya juga semakin menghindari tas yang terlalu instantly recognizable, tentu dengan beberapa pengecualian. Maybe it’s just me, tapi akhir-akhir ini saya kurang nyaman dengan bagaimana fashion seringkali direduksi menjadi nominal atau simbol status. Apalagi sejak banyak akun yang menghitung harga outfit selebritas sampai detail terkecilnya. Somehow, it takes the joy away from fashion.

Mungkin itu juga alasan kenapa saya lebih menyukai koleksi Celine era sebelumnya dibanding sekarang. Saya masih sangat suka model seperti Luggage, Belt, atau Trapeze. Tapi salah satu tas yang paling saya pakai justru Celine Trio hitam yang saya beli saat babymoon ke Jepang. Waktu itu saya menemukannya di vintage shop terpercaya dengan harga yang surprisingly reasonable. Sampai sekarang, tas itu masih jadi salah satu andalan kalau saya perlu mobilitas tinggi. Tiga kompartemennya cukup untuk barang-barang esensial: lipstik, bedak, card holder, mouth spray, parfum sampai kamera.
Pada akhirnya, menurut saya membeli tas bukan cuma soal tren atau brand. Tas yang paling worth it adalah tas yang benar-benar terasa seperti bagian dari diri kita sendiri. Kita tidak perlu memaksakan diri mengikuti apa yang hype sekarang ini, apabila ternyata itu bukan gaya kita sehari-hari. Seseorang yang telah menemukan personal style-nya akan lebih mudah menentukan produk apa yang akan dibeli, yang ia sukai dan tidak sukai, dan yang paling berguna untuk kesehariannya. Kalau menurut kamu gimana?
Images: Courtesy of The Luxury Reports,


