
Rambut “Tidak Sempurna” yang Justru Menjadi Simbol Gaya Baru
Ketidaksempurnaan justru menjadi sebuah kesan tersendiri.
Selama beberapa tahun terakhir, dunia kecantikan berlomba-lomba menuju satu tujuan: tampilan sempurna. Rambut cepol rapi yang mengilap tanpa satu helai pun keluar dari tempatnya, blowout yang berkilau tanpa cela, hingga gel yang membuat setiap bagian rambut tampak jinak terkendali. Namun belakangan, arah tren mulai bergeser. Kini, banyak orang justru mengapresiasi rambut “tidak sempurna” atau tatanan yang terlihat lebih natural, bertekstur, dan sedikit “berantakan”.
Baca juga: Eksperimen Hair Transplant di Jepang hingga Fenomena Medis di Turki
Gaya ini sering disebut sebagai undone hair atau lived-in hair. Bukan berarti rambut benar-benar tidak dirawat, melainkan ditata agar terlihat santai dan tidak terlalu terpoles. Tren ini muncul seiring meningkatnya minat terhadap estetika yang terasa lebih autentik dibandingkan tampilan yang terlalu sempurna khas media sosial.

Di berbagai red carpet dan kampanye fashion, semakin banyak selebritas yang memilih tampilan rambut dengan tekstur alami. Jennifer Lawrence misalnya, sering tampil dengan gelombang rambut yang terlihat santai dan tidak terlalu dipoles. Dakota Johnson juga dikenal mempertahankan tekstur rambut natural dan poni khasnya yang terlihat sedikit acak. Sementara itu, Alexa Chung sudah lama menjadi ikon gaya rambut effortless yang seolah tidak memerlukan banyak penataan.

Tren serupa juga terlihat pada Hailey Bieber yang seringkali terlihat mengenakan messy bun dengan beberapa helai rambut sengaja dibiarkan jatuh di sekitar wajah. Bahkan Kate Moss, yang menjadi simbol gaya cool-girl sejak era 1990-an, kembali menjadi referensi utama untuk rambut “tidak sempurna” karena bisa menonjolkan tekstur alami rambut yang terlihat hidup dan tidak kaku.

Rambut “Tidak Sempurna” dan Estetika 90-an
Menariknya, tren rambut “tidak sempurna” ini juga berkaitan dengan kebangkitan berbagai estetika lama seperti indie sleaze, boho chic, dan gaya supermodel tahun 1990-an. Ketiganya sama-sama mengutamakan kesan spontan dibandingkan kesempurnaan. Rambut yang sedikit kusut setelah seharian beraktivitas, gelombang yang tidak seragam, atau cepol yang longgar kini dianggap lebih menarik karena memberi karakter.
Di tengah era filter, editing, dan standar kecantikan yang semakin tinggi, rambut yang tampak “tidak sempurna” justru menawarkan sesuatu yang terasa segar berupa “personality“. Mungkin itulah alasan mengapa semakin banyak orang meninggalkan tampilan yang terlalu sempurna dan memilih rambut yang terlihat lebih hidup, lebih santai, dan lebih manusiawi.
Kalau kamu, lebih suka rambut yang di-styling hingga “matang” dan polished, atau rambut natural dan effortlessly chic seperti di atas?
Images: Courtesy of Alexa Chung, Jlawsupdates, Hailey Bieber


