3 Label Slow Fashion di Filipina yang Tokonya Tidak Buka Setiap Hari

Pengunjung harus membuat janji sebelum mengunjungi tiga brand lokal di Manila ini.

Di era yang serba instan, berbelanja sering kali menjadi aktivitas yang nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Kita terbiasa masuk ke toko tanpa rencana, melihat sesuatu yang menarik, lalu membawanya pulang beberapa menit kemudian. Tak jarang, kunjungan yang awalnya tanpa tujuan berakhir dengan pembelian impulsif.

Namun, pengalaman tersebut tidak selalu berlaku di dunia slow fashion. Saat berada di Manila, saya mengunjungi tiga brand lokal yang mengharuskan pengunjung membuat janji terlebih dahulu atau hanya membuka studio pada hari-hari tertentu. Lokasinya pun jauh dari pusat perbelanjaan; sebagian beroperasi dari unit apartemen atau rumah tinggal yang disulap menjadi ruang kreatif. Di tengah budaya konsumsi yang mengutamakan kecepatan dan kemudahan, pengalaman unik ini terasa seperti undangan untuk melambat. Keterbatasan akses yang awalnya tampak tidak praktis justru mencerminkan cara kerja para brand independen yang memproduksi dalam skala kecil, membangun hubungan yang lebih personal dengan pelanggan, dan memilih ritme yang lebih lambat di tengah budaya belanja yang serba cepat.

Merakibowy

Kunjungan pertama saya adalah ke Merakibowy, sebuah brand yang dikenal lewat estetika romantic bohemian. Didominasi material ringan yang terasa cocok untuk cuaca tropis, koleksi mereka menghadirkan permainan motif dan kombinasi kain yang membuat setiap potongannya memiliki karakter tersendiri. Menariknya, sebagian besar produk mereka dibuat dengan menggunakan deadstock fabric, yang membuat banyak produknya hadir dalam jumlah yang sangat terbatas. Sehingga ketika suatu desain habis terjual, belum tentu akan diproduksi kembali. Di tengah industri fashion yang terus mendorong konsumsi dan tren baru, Merakibowy justru menawarkan sesuatu yang lebih eksklusif secara alami lewat pemanfaatan kain sisa produksi.

Untuk mengunjungi Merakibowy, saya harus menyesuaikan jadwal dengan hari operasional studionya yang hanya buka di hari Rabu hingga Sabtu, pukul 12 siang hingga 6 sore. Studionya sendiri berlokasi di sebuah unit di Crown Tower, Makati, jauh dari kesan toko ritel pada umumnya. Fakta bahwa studio ini hanya buka beberapa hari dalam seminggu terasa sejalan dengan filosofi slow fashion, yakni tidak terburu-buru, tidak diproduksi massal, dan tidak beroperasi dengan ritme yang sama seperti toko pakaian konvensional. Suasananya hangat dan terasa personal, lebih menyerupai ruang kreatif daripada tempat berbelanja. Beberapa sudut ruangan terlihat dihiasi pemanfaatan tekstil sisa produksi yang diolah kembali menjadi elemen dekoratif, sebuah detail kecil yang mencerminkan nilai keberlanjutan yang mereka usung.

Jos Mundo

Dibuat secara handmade di Filipina, Jos Mundo memadukan craftsmanship lokal dengan pendekatan desain yang modern dan penuh karakter. Sebagian besar koleksi pakaiannya diproduksi dalam jumlah terbatas menggunakan deadstock fabric. Sementara itu, alas kaki dan aksesori kulitnya dibuat di Marikina, kota yang dikenal sebagai pusat industri alas kaki Filipina. Salah satu produk ikonisnya adalah bakya, interpretasi modern dari bakiak tradisional Filipina yang hadir dalam berbagai warna dan material. Selain itu, Jos Mundo juga dikenal lewat detail-detail feminin seperti kerut, potongan asimetris, perpaduan motif yang tidak biasa, hingga penggunaan manik-manik dan kerang yang diperoleh dari berbagai daerah di Filipina. Hasilnya adalah koleksi yang terasa playful serta memiliki identitas yang kuat.

Jika sebagian besar toko mengutamakan kemudahan akses, Jos Mundo justru mengambil pendekatan yang berbeda. Sebelum mengunjungi studio mereka yang dikenal sebagai Jos Mundo Apartment, saya terlebih dahulu harus mengajukan janji temu secara online. Setelah memilih tanggal dan waktu kunjungan, tim Jos Mundo akan mengirimkan email konfirmasi yang berisi alamat studio mereka.

Menariknya, formulir reservasi kunjungan tersebut juga menanyakan jumlah pengunjung, ukuran pakaian, hingga ukuran sepatu yang biasa digunakan, sehingga tim dapat menyiapkan pilihan produk yang sesuai untuk dicoba saat berkunjung. Pendekatan ini membuat pengalaman berbelanja terasa jauh lebih personal, sekaligus mencerminkan filosofi brand yang mengutamakan kualitas dan hubungan yang lebih dekat dengan pelanggannya.

Munimuni Studio

Munimuni Studio menawarkan pendekatan yang lebih lambat lagi di lanskap brand lokal Filipina. Seluruh koleksinya dibuat berdasarkan sistem pre-order dengan waktu produksi sekitar tiga hingga empat minggu, memungkinkan brand untuk memproduksi sesuai kebutuhan tanpa menciptakan stok berlebih. Banyak koleksinya dibuat menggunakan deadstock fabric dan diwarnai dengan pewarna alami, menghasilkan palet warna yang didominasi nuansa bumi yang lembut. Material seperti katun, linen, dan renda turut memperkuat kesan ringan dan organik pada setiap koleksinya. Yang paling menarik, setiap desain hadir dengan cerita dan inspirasinya masing-masing, membuat setiap pakaian dibuat dengan pemikiran dan makna yang mendalam. 

Seperti Jos Mundo, kunjungan saya ke Munimuni Studio juga harus dilakukan melalui reservasi online. Saat membuat janji temu, saya diminta menyebutkan jika ada produk tertentu yang ingin dicoba agar tim dapat menyiapkannya terlebih dahulu. Studionya sendiri terletak di sebuah kawasan perumahan dan menempati bagian depan rumah sang pendiri. Selama berkunjung, saya dapat melihat dan mencoba berbagai sampel koleksi mereka, meskipun sebagian besar tidak tersedia untuk langsung dibawa pulang karena seluruh produksinya berbasis pre-order. Sambil menjelajahi koleksi, saya juga ditemani oleh tiga kucing peliharaan yang bebas berkeliaran di studio. Pengalaman ini terasa jauh dari konsep toko pakaian konvensional, saya justru merasakan suasana rumah yang santai dan ramah.

Di tengah budaya belanja yang semakin mengutamakan kecepatan dan kemudahan, mengunjungi Merakibowy, Jos Mundo, dan Munimuni Studio memberikan pengalaman dengan warna yang berbeda dari toko ritel pakaian pada umumnya. Tidak ada rak penuh stok yang siap dibawa pulang hari itu juga, bahkan beberapa studio hanya dapat dikunjungi melalui janji temu. Namun justru di situlah letak daya tariknya, di mana setiap kunjungan terasa seperti kesempatan untuk melihat lebih dekat proses kreatif dan produksi di balik sebuah brand. Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa di balik setiap pakaian, selalu ada tangan, waktu, dan cerita yang jarang terlihat dari balik etalase toko.

Images courtesy of: Merakibowy, Jos Mundo, Munimuni Studio, Vogue Philippines.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *