
Budaya Nusantara dan Pengaruhnya di Panggung Fashion Dunia
Runway global juga kerap dihiasi oleh budaya Nusantara. Ini beberapa momen yang harus kamu tahu!
Bicara soal pengaruh budaya Indonesia di fashion global, kebanyakan orang otomatis terpikir batik. Padahal, jejak Nusantara di runway internasional terbentang jauh lebih luas. Dari teknik tenun ikat yang namanya masuk ke kamus mode dunia, hingga sarung yang berkali-kali muncul dalam koleksi avant-garde Eropa, budaya Indonesia telah menjadi sumber inspirasi yang terus muncul di berbagai koleksi fashion.
Etro Spring/Summer 2017 Menswear: âBlue Ikatâ Menjadi Tema Utama

Salah satu contoh paling eksplisit datang dari Etro. Untuk koleksi Spring/Summer 2017 menswear, rumah mode Italia tersebut bahkan menamai konsep utamanya âBlue Ikatâ. Koleksi ini dipenuhi pola kain khas ikat yang menjadi ciri teknik pewarnaan benang tradisional Nusantara. Istilah âikatâ sendiri berasal dari bahasa Indonesia/Melayu dan kini digunakan secara internasional dalam dunia tekstil.
Yang menarik, Etro tidak sekadar menggunakan motif etnik generik. Mereka secara langsung menyebut ikat sebagai inspirasi visual koleksi, menunjukkan bagaimana istilah yang lahir di Asia Tenggara telah menjadi bagian dari kosakata fashion global.
Jean Paul Gaultier dan Sarung yang Menjadi High Fashion


Jauh sebelum genderless fashion menjadi salah satu tren besar, Jean Paul Gaultier sudah bereksperimen dengan sarung dan kain lilit dalam berbagai koleksinya pada akhir 1980-an hingga 1990-an.
Gaultier dikenal sering mengadaptasi busana tradisional dari berbagai budaya ke dalam konteks couture dan ready-to-wear. Dalam sejumlah arsip runway-nya terlihat penggunaan sarung sebagai rok, gaun, maupun elemen draping yang menjadi ciri khasnya.
Hari ini, rok lilit untuk pria yang sering muncul di runway Paris atau Milan terasa modern. Namun konsep tersebut sebenarnya sudah lama hidup dalam budaya berpakaian Nusantara melalui sarung.
Dior Cruise 2020 dan Perdebatan tentang Batik

Salah satu momen paling ramai terjadi ketika koleksi Cruise 2020 dari Christian Dior karya Maria Grazia Chiuri viral karena dianggap memiliki nuansa batik.
Meski kemudian dijelaskan bahwa inspirasinya berasal dari kain wax print Afrika, banyak pengamat mode menilai kemiripan tersebut menunjukkan betapa kuatnya asosiasi dunia terhadap teknik dan estetika batik. Perdebatan itu bahkan menjadi berita internasional dan membuka diskusi tentang pengaruh teknik pewarnaan lilin yang juga digunakan dalam tradisi batik Indonesia.
Bali dan Lahirnya Estetika Resort Wear Modern
Tidak semua pengaruh Indonesia hadir dalam bentuk motif atau kain. Kadang yang diadopsi adalah gaya dan latar hidup.
Sejak pertengahan 2010-an, citra Bali menjadi salah satu referensi utama untuk tren resort wear global. Siluet longgar, crochet, anyaman rotan, linen putih, hingga tas rotan bundar yang identik dengan Bali muncul berulang kali dalam koleksi berbagai label internasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya tidak selalu berbentuk replika langsung. Sering kali yang diadopsi adalah suasana, filosofi, dan imajinasi tentang sebuah tempat.

Johanna Ortiz Resort 2025

Jacquemus “Le Splash”
Dari Nusantara ke Dunia
Jika harus memilih kontribusi Indonesia yang paling berpengaruh terhadap fashion internasional, jawabannya mungkin bukan sebuah merek atau desainer, melainkan sebuah kata: ikat.
Tidak banyak negara yang berhasil menyumbangkan istilah tekstil ke dalam bahasa mode global. Namun sampai hari ini, editor fashion, desainer, buyer, dan sejarawan tekstil di seluruh dunia masih menggunakan kata yang berasal dari bahasa Nusantara tersebut saat membahas salah satu teknik tenun paling penting dalam sejarah dunia mode.
Dan itu menunjukkan bahwa pengaruh Indonesia dalam fashion dunia bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari fondasi visual yang terus menginspirasi runway hingga saat ini.
Images: Courtesy of Getty Images, Etro, Jean Paul Gaultier, Dazed, Johanna Ortiz, Jacquemus


