
Dior Haute Couture Fall/Winter 2026: Saat Keindahan Alam Menjadi Inspirasi
Baru dua minggu lalu, Jonathan Anderson mempersembahkan koleksi menswear ketiganya untuk Dior. Kini, ia kembali dengan koleksi haute couture keduanya untuk Dior yang sangat ditunggu-tunggu.
Di tengah jadwal yang begitu padat, semangat dan dedikasinya justru semakin terasa. Setiap koleksinya terus menghadirkan keindahan yang lahir dari referensi dan inspirasi yang kuat. Kali ini, di tengah Musée Rodin, Jonathan Anderson kembali mengambil referensi dari alam, dengan berbagai inspirasi dari karya seniman Lynda Benglis yang terasa di berbagai detail koleksi.
Seniman Lynda Benglis Sebagai Inspirasi

Lynda Benglis adalah seorang seniman post-minimalism asal Amerika yang sudah lama berkolaborasi dengan Jonathan Anderson sejak masanya di Loewe. Keduanya pernah menghadirkan kolaborasi untuk runway koleksi menswear dan womenswear Spring/Summer 2024, beserta koleksi perhiasan yang unik dan khas.
Kali ini, Jonathan Anderson kembali mengambil inspirasi dari karya-karya Benglis untuk koleksi haute couture Dior, menghadirkannya ke dalam berbagai items, mulai dari pakaian hingga sepatu. Salah satunya adalah karya Pleated Sculptures dari era 1970-an dengan nuansa metallic, yang menjadi inspirasi untuk gaun pada Look 8 dan Look 14. Detail pleated metallic ini juga diinterpretasikan menjadi topi yang mencuri perhatian karya Stephen Jones, serta hadir dalam berbagai aksesori seperti sepatu, tas, small clutches, hingga versi Cigale Bag.

Inspirasi lainnya datang dari karya Peacock Series, yang dimulai pada era 1970-an saat perjalanan Benglis ke Ahmedabad. Pada Look 24 dan Look 30, interpretasi bentuk kipas dari Peacock Series hadir di bagian depan maupun belakang gaun, menciptakan siluet yang menarik sekaligus tampilan yang teatrikal. Sementara itu, karya Georgia On My Mind juga menjadi inspirasi untuk Look 52 yang diinterpretasikan menjadi sebuah rok.
Baca juga: The Party Doesn’t End When The Sun Rises at Dior Homme Spring/Summer 2027
Dua Sisi Keindahan Alam

Selain mengambil inspirasi dari karya Lynda Benglis, Jonathan Anderson juga mengeksplorasi dua karakter alam yang sangat berbeda. Ahmedabad di India, dengan kekayaan alam dan tradisi kerajinannya, dipertemukan dengan Santa Fe, New Mexico, tempat Lynda Benglis tinggal dan berkarya, yang dikenal dengan gurunnya yang kering, udara yang jernih, serta nuansa yang tenang.
Perpaduan dua karakter alam tersebut diterjemahkan melalui permainan warna, tekstur, dan berbagai detail floral di sepanjang koleksi. Menghasilkan berbagai rangkaian look yang bergerak di antara dua karakter alam yang kontras, namun tetap terasa menyatu di setiap detailnya.

Melalui koleksi haute couture keduanya untuk Dior, Jonathan Anderson kembali menunjukkan pentingnya kolaborasi dengan seniman baginya. Bukan sekadar kolaborasi untuk berkreasi, melainkan juga sebagai bentuk pelestarian yang merayakan karya dari setiap seniman yang diangkat.
Koleksi ini juga menunjukkan kemampuan Jonathan Anderson dalam menerjemahkan seni, alam, dan sejarah menjadi sebuah koleksi yang terasa emosional sekaligus modern. Sebuah eksplorasi yang membuktikan bahwa haute couture bukan hanya tentang teknik yang kompleks, tetapi juga tentang cerita dan makna yang sama kompleksnya.
Image courtesy of: Dior.


