Membedah Koleksi Terbaru Wilsen Willim: “Algorithm: Universal Language”

Wastra di tangan Wilsen tampil lebih modern dan berkarakter, tanpa kehilangan nilai budayanya.

Menandai satu dekade perjalanan kariernya, Wilsen Willim memperkenalkan koleksi terbarunya berjudul Algorithm: Universal Language. Sebanyak 60 looks ditampilkan di runway Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan pada 8 Juli 2026 lalu. Koleksi ini menghadirkan olahan kain dari empat wilayah di Indonesia, yaitu: tenun sutra Garut dari Jawa Barat, Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu Putussibau Kalimantan Barat, Songket Jembrana Bali, dan Songket Minang dari Halaban. Berpadu dengan benang denim daur ulang, hasilnya adalah siluet beragam yang tampil penuh karakter, mulai dari kemeja, jaket, celana, rok, korset, apron, hingga kain jarik.

Palet warna koleksi didominasi nuansa biru yang terinspirasi dari denim daur ulang, dipadukan dengan aksen metalik emas, perak, dan perunggu, serta warna-warna monokrom yang menjadi ciri khas estetika Wilsen. Namun, yang membuat Algorithm: Universal Language menarik untuk dibahas bukan hanya pilihan material atau tampilannya di runway.

Di balik setiap look, Wilsen mengangkat sebuah pertanyaan yang lebih besar: bagaimana craftsmanship Indonesia dapat terus berkembang di era teknologi, tanpa kehilangan identitasnya? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah koleksi, sekaligus membuka ruang diskusi tentang bagaimana wastra dapat diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang relevan bagi audiens global.

Kenapa “Algorithm?”

Di tengah semakin lekatnya istilah algorithm dengan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital, Wilsen justru menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu yang jauh lebih tradisional, yaitu tenun.

Dalam koleksi ini, algoritma dimaknai sebagai pola berulang yang membentuk struktur tenun. Setiap helai benang disusun melalui urutan, ritme, dan logika tertentu hingga membentuk sebuah kain. Pendekatan tersebut terasa menarik karena menggeser cara kita memandang wastra.

Selama ini, tenun lebih sering diapresiasi melalui motif, warna, atau nilai historisnya. Wilsen, melalui koleksi ini justru melihat sistem di balik setiap lembar kain yang diwariskan lintas generasi, mulai dari teknik, pola, hingga struktur yang menjadi dasar proses pembuatannya. Dengan kata lain, sebelum algoritma menjadi istilah yang identik dengan digital atau komputer, prinsip serupa telah lama hidup dalam praktik menenun.

Indonesia sendiri memiliki ratusan tradisi tekstil yang berkembang di berbagai daerah, mulai dari tenun ikat di Nusa Tenggara, songket di Sumatra, hingga berbagai teknik tenun di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar melestarikannya, tetapi memastikan wastra tetap memiliki tempat di tengah industri fashion yang bergerak cepat dan semakin kompetitif.

Idealisme vs Permintaan Pasar

Mengangkat wastra ke atas runway bukan lagi hal baru. Dalam satu dekade terakhir, semakin banyak desainer Indonesia menjadikan tenun, batik, maupun tekstil tradisional sebagai bagian dari koleksinya. Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana menghadirkan wastra, tetapi bagaimana membuatnya tetap relevan bagi konsumen saat ini.

Pasar fashion bergerak jauh lebih cepat dibanding proses lahirnya sebuah kain tradisional. Konsumen menginginkan pakaian yang mudah dikenakan, fungsional, dan mengikuti gaya hidup modern. Di sisi lain, wastra lahir dari proses yang panjang, penuh detail, dan sarat makna budaya. Menemukan titik temu di antara keduanya menjadi tantangan yang dihadapi banyak desainer Indonesia.

Di sinilah Algorithm: Universal Language menawarkan pendekatan yang menarik. Alih-alih mempertahankan siluet tradisional, Wilsen memadukan tenun dengan elemen yang lebih dekat dengan wardrobe masa kini, seperti denim, tailoring, biker jacket, hingga harness. Wastra tidak ditempatkan sebagai aksen seremonial, tetapi menjadi bagian dari pakaian yang terasa lebih kontemporer.

Craftsmanship Saja Tidak Lagi Cukup

Industri fashion global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan satu perubahan yang menarik. Narasi tentang craftsmanship kembali menjadi pusat perhatian. Fashion house seperti Hermès terus menonjolkan nilai artisan, sementara Loewe melalui Loewe Foundation Craft Prize secara konsisten mengangkat karya-karya kriya dari berbagai negara. Dior pun semakin sering menampilkan proses bordir hingga teknik tradisional sebagai bagian dari cerita di balik koleksinya. Namun, ada satu benang merah yang bisa dipelajari: mereka tidak hanya menjual craftsmanship. Mereka menjual sudut pandang.

Craftsmanship menjadi relevan ketika mampu diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang bisa dipahami oleh pasar global. Nilainya tidak hanya terletak pada proses pembuatannya, tetapi juga pada bagaimana proses tersebut menghasilkan sesuatu yang terasa baru.

Di Indonesia, tantangannya justru lebih kompleks. Kekayaan wastra yang begitu besar sering kali membuat desainer terjebak pada eksplorasi motif dan material. Padahal, nilai terbesarnya bisa jadi bukan hanya pada kain itu sendiri, melainkan pada pengetahuan, sistem, dan filosofi yang membentuknya.

Melalui Algorithm: Universal Language, Wilsen mencoba menggeser fokus tersebut. Yang diangkat bukan sekadar tenunnya, melainkan cara berpikir di balik tenun yang tidak hanya berpatoka pada hasil akhir, tetapi logika yang membentuknya. Jika pendekatan ini terus berkembang, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “bagaimana membawa wastra ke panggung dunia?”, melainkan “bagaimana membuat cara berpikir di balik wastra menjadi bagian dari percakapan desain global?”

Apakah Fashion Indonesia Sudah Berbicara dalam Bahasa Global?

Jika Algorithm berbicara tentang struktur dan cara berpikir di balik tenun, maka Universal Language adalah bagaimana sebuah karya yang berakar kuat pada identitas lokal dapat dipahami oleh audiens global.

Dalam industri fashion, istilah “global” sering disalahartikan sebagai mengikuti estetika Barat atau menghilangkan identitas budaya agar lebih mudah diterima pasar internasional. Padahal, banyak fashion house justru dikenal karena kemampuannya mempertahankan akar budaya mereka. Jepang memiliki Comme des Garçons dan Issey Miyake yang membawa filosofi desain Jepang ke panggung dunia. Belgia dikenal lewat Antwerp Six yang membangun identitas melalui pendekatan konseptual, bukan kompromi terhadap pasar. Artinya, bahasa yang universal bukanlah bentuk visual yang seragam, melainkan gagasan yang dapat dipahami lintas budaya.

Dalam konteks koleksi ini, Wilsen tidak mencoba menjadikan tenun terlihat “internasional”. Ia justru berangkat dari karakter yang paling mendasar dari tenun, yaitu struktur, ritme, dan pola berulang, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa desain kontemporer. Yang dibawa ke panggung bukan hanya kainnya, tetapi cara berpikir yang melahirkan kain tersebut.

Pendekatan ini menarik karena membuka kemungkinan baru bagi fashion Indonesia. Selama ini, diskusi tentang wastra sering berhenti pada pelestarian. Padahal, agar tetap hidup, wastra juga perlu terus berkembang, beradaptasi, dan menemukan konteks baru tanpa kehilangan nilai yang membentuknya.

Images: Wilsen Willim, The Luxury Reports

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *