Copenhagen Jadi Ibu Kota Fashion Dunia yang Baru?

Setelah 20 tahun, Copenhagen Fashion Week menjadi event reguler yang kini selalu jadi pembicaraan hangat.

Dua dekade sejak pertama kali digelar, Copenhagen sudah disebut-sebut sebagai fashion capital kelima setelah New York, London, Paris dan Milan. Lantas, apa yang dilakukan Copenhagen hingga berhasil membangun pengaruhnya sendiri di tengah dominasi empat kota mode dunia?

Tidak Berusaha Menjadi Seperti yang Lain

Copenhagen Fashion Week pertama kali digelar pada 2006, tanpa ambisi untuk menyaingi New York, London, Paris, atau Milan. CPHFW tumbuh dari ekosistem fashion lokal Denmark dan Skandinavia, membawa perspektif yang berbeda dari empat kota yang sudah lebih dulu mendominasi kalender fashion global.

Perubahan besar mulai terlihat pada 2019, ketika CEO CPHFW, Cecilie Thorsmark, bersama timnya mulai mengembangkan visi baru untuk fashion week tersebut. Bagi Thorsmark, industri fashion terlalu lama sibuk dengan dirinya sendiri, sementara dampak lingkungan yang dihasilkan terus membesar. Ia pun melihat kesempatan untuk menggunakan posisi Copenhagen Fashion Week sebagai penggerak perubahan, dan kemudian mulai mengembangkan Sustainability Requirements.

Pada 2020, Copenhagen Fashion Week mengumumkan bahwa Sustainability Requirements akan mulai menjadi syarat bagi brand yang ingin tampil di CPHFW 2023. Brand yang berminat untuk berpartisipasi pun memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk memahami peraturan tersebut, membangun pengetahuan, dan melakukan perubahan dalam cara mereka merancang maupun menjalankan bisnisnya menjadi lebih bertanggungjawab.

Ketika persyaratan tersebut mulai berlaku pada 2023, Sustainability Requirements pun resmi menjadi bagian dari proses seleksi brand yang ingin tampil di Copenhagen Fashion Week. Dan standar tersebut tidak membuat Copenhagen kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, CPHFW terus berkembang sebagai salah satu fashion week yang semakin diperhitungkan. Hingga kini, nama-nama seperti GANNI, Cecilie Bahnsen, dan Saks Potts mulai mendapatkan perhatian internasional dan semakin mengantarkan identitas fashion Denmark ke audiens global.

Ketika Keberlanjutan Menjadi Syarat

Di Copenhagen Fashion Week, keberlanjutan bukan lagi sekadar tema yang muncul dalam panel diskusi atau strategi marketing sebuah brand, melainkan bagian dari kualifikasi untuk mendapatkan slot.
Kerangka Sustainability Requirements CPHFW mencakup 19 minimum standards yang mencakup aspek lingkungan dan sosial di sepanjang rantai nilai. Brand perlu menunjukkan, antara lain, bahwa mereka memiliki strategi keberlanjutan, menerapkan circularity dalam operasional, memiliki kebijakan terkait bahan, dan memperhatikan penggunaan material hewani.

Standar tersebut tidak hanya berhenti pada koleksi yang ditampilkan. Copenhagen Fashion Week juga memiliki ketentuan untuk penyelenggaraan setiap show. Brand diwajibkan menerapkan prinsip zero-waste dalam memproduksi showcase, menghindari single-use plastic packaging di backstage, melakukan pemilahan sampah, serta mengambil langkah terkait jejak karbon dari acara mereka.

Pengaruh pendekatan ini sudah mulai meluas ke luar Copenhagen. Sustainability Requirements yang dikembangkan CPHFW kini menjadi referensi bagi sejumlah fashion week dan institusi fashion lain, termasuk Berlin Fashion Week, British Fashion Council, Amsterdam Fashion Week, dan Oslo Runway. Beberapa di antaranya mengadaptasi kerangka tersebut dengan menyesuaikannya dengan konteks industri dan pasar masing-masing.

Fashion Week Bukan Satu-satunya Panggung Fashion Copenhagen

Perkembangan pengaruh Copenhagen tidak hanya tumbuh dari fashion week-nya saja. Dalam beberapa tahun terakhir, gaya berpakaian khas Copenhagen juga berkembang menjadi identitas yang semakin mudah dikenali oleh fashion enthusiasts di berbagai belahan dunia.

Street style Copenhagen punya karakter yang berbeda dari kota-kota fashion lainnya. Adanya layering, oversized trench coat, skirt-over-pants, hingga sendal jepit. Estetika effortless ini sebenarnya juga tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup sehari-hari Copenhagen. Sebagai salah satu kota yang sangat ramah terhadap pesepeda, masyarakat kota ini cenderung memilih pakaian yang nyaman dan fungsional untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun tanpa harus mengorbankan esensi gaya.


Copenhagen mungkin belum menggantikan empat kota yang selama ini mendominasi kalender fashion dunia. Namun, dalam dua dekade terakhir, pengaruhnya perlahan mulai mengubah peta fashion global. Dengan semakin banyaknya fashion week yang mulai mengadopsi pendekatan serupa, menarik untuk melihat seperti apa wajah industri fashion dan keberlanjutan dalam beberapa tahun ke depan.

Image courtesy of: Vogue, Copenhagen Fashion Week, The Guardian

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *