The Invisible Work di Balik Membangun Massicot

Kalau membahas Massicot, memori saya berkelana ke tahun awal di mana saya baru memulai karier sebagai seorang Editor majalah. Bisa dibilang, brand asal Bandung ini berperan banyak dalam mendukung pekerjaan saya, apalagi saat sedang mengerjakan photoshoot. Koleksi aksesoris Massicot seringkali jadi items yang membuat hasil foto saya jadi semakin berwarna.

Fast forward to 2026, akhirnya saya bertemu langsung dengan Amanda Mitsuri, founder dan designer dari Massicot, dan senang sekali bisa mendengar sepenggal cerita mengenai bagaimana ia membangun brand nya.

Dari luar, sebuah brand yang bagus sering kali terlihat effortless. Kita melihat produknya ketika sudah selesai, campaign yang sudah tertata rapi, Instagram feed yang terlihat cohesive, atau sebuah koleksi baru ketika akhirnya sampai di rak. Tapi pastinya, hal-hal yang nggak terlihat oleh kita tuh justru lebih banyak dan kompleks.

amanda mitsuri massicot apple

Ada ide yang awalnya cuma berupa coretan, revisi desain entah ke berapa, file yang harus berpindah dari satu orang ke orang lain, meeting, produksi, content, sampai keputusan-keputusan kecil yang harus dibuat setiap hari. Dan semakin kecil sebuah tim, semakin besar kemungkinan satu orang mengerjakan lebih dari satu hal.

Mendengar Amanda bercerita beberapa waktu lalu tentang bagaimana ia menjalankan Massicot membuat saya justru tertarik dengan the invisible works-nya. Karena ternyata di balik dunia Massicot yang begitu penuh warna dan imajinasi, Amanda sudah membangun sebuah sistem kerja selama bertahun-tahun lamanya.

Massicot Penuh dengan Imajinasi

amanda mitsuri massicot

Kalau melihat Massicot hari ini, mungkin agak sulit membayangkan brand ini awalnya lahir sebagai sebuah jewelry brand pada 2012.

Dengan latar belakang product design, Amanda ketika itu mengeksplorasi sebuah material yang belum banyak digunakan untuk perhiasan, yaitu resin. Kemudian akhirnya Massicot berkembang jauh melampaui jewelry. Kini dunia yang dibangun Amanda sudah merambah womenswear, berbagai aksesori, sampai memiliki cofee nook bernama Pololo Coffee.

Tapi walaupun ada banyak yang dikerjakan oleh Amanda, ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah, yaitu imajinasi.

Amanda bahkan menggambarkan Massicot sebagai sebuah playground. Ia tidak ingin brand-nya terkurung dalam satu visual identity yang terlalu kaku. Cerita, ilustrasi, material, dan berbagai ide bisa bertemu dan berubah bentuk di dalamnya.

Jauh sebelum Massicot, ketertarikannya terhadap visual ternyata sudah tumbuh sejak kecil. Ayahnya sering membawakan buku-buku bergambar dari Prancis yang penuh dengan folklore dan dunia imajinatif. Visual kemudian menjadi salah satu bahasa yang ia gunakan untuk bercerita, sesuatu yang masih terlihat dalam karya-karyanya sampai sekarang. 

Ada satu hal yang saya suka dari cara Amanda memandang karyanya. Buat dia, karya seperti sebuah diary. Ada fase kehidupan yang ikut terekam di dalamnya. Jadi kekuatannya bukan hanya terletak pada visual yang cantik, tetapi cerita di belakangnya. Maybe that’s why Massicot feels so alive and personal.

Tapi tentu saja, imajinasi saja nggak cukup untuk menjalankan sebuah bisnis.

Sebuah Laptop yang Ternyata Menjadi Modal

amanda mitsuri massicot

Cerita Amanda dengan teknologi ternyata dimulai cukup jauh sebelum iPad menjadi bagian dari meja kerjanya. Ketika mulai kuliah pada 2011, Amanda mendapat MacBook Pro pertama dari ayahnya. Bukan uang ratusan juta sebagai modal usaha, tapi sebuah perangkat yang menurut ayahnya bisa menjadi the gold mine for her career. Dari sinilah Amanda mulai membangun Massicot dan menjadikan modal yang diberikan oleh ayahnya ini sebagai alat untuk menyalurkan kreativitasnya.

Di saat saya mendengar Amanda bercerita tentang hal ini, senyuman lebar tanpa disadari langsung hadir di wajah saya. Ini cerita yang sangat hangat karena kita seringkali membicarakan modal usaha dalam bentuk uang. Padahal untuk seseorang yang bekerja dengan ide, terkadang modal pertamanya justru adalah sesuatu yang membuat ide tersebut bisa keluar dari kepala. Dan ayahnya melihat hal tersebut.

Baca juga: Apple Intelligence Memasuki Babak Baru yang Membuat AI Jadi Bagian dari Pengalaman

Tahun Paling Produktif Bagi Amanda Mitsuri: Setelah Menjadi Ibu

amanda mitsuri massicot

Pada 2018, setelah menjadi ibu, Amanda mendapat hadiah iPad Pro dari suaminya. Saat itu ia harus menghabiskan waktu sekitar tiga bulan lebih banyak di rumah setelah melahirkan. Di tengah periode tersebut, menggambar lewat iPad menjadi caranya untuk terus berkarya. 

Bagian ini mungkin yang paling nempel buat saya ketika mendengar Amanda bercerita. Karena kalau biasanya kita membicarakan teknologi lewat processor, screen, performance, atau berapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dengannya, Amanda membicarakannya dari sisi yang jauh lebih manusiawi: iPad membuatnya kembali menggambar.

Sebelumnya, proses tersebut berarti kertas, berbagai alat gambar, dan ruang untuk mengerjakannya. Dengan iPad Pro dan Procreate, studio itu tiba-tiba bisa ikut ke mana pun ia pergi. Amanda sendiri menyebutnya sebagai portable studio. Kebiasaannya menggambar manual juga membuat perpindahan ke digital terasa natural; ia tetap bisa bermain dengan tekstur, warna, dan detail tanpa merasa medium digital tersebut membatasi caranya bekerja. 

amanda mitsuri massicot

Dan menurut Amanda, periode ketika iPad mulai menjadi bagian dari proses kreatifnya justru menjadi salah satu momen paling produktif dalam hidupnya. Bukan karena kertas tiba-tiba menjadi obsolete. Tapi karena ketika jarak antara “saya punya ide” dan “saya bisa mulai mengerjakannya” semakin pendek, mungkin kita jadi punya lebih sedikit alasan untuk membiarkan ide itu lewat begitu saja.

Amanda juga mengatakan bahwa gadget Apple yang ia gunakan, memang sangat ramah bagi mata para pekerja seni. “Kalau saya memilih sebuah warna dan mendesainnya di iPad atau MacBook, udah pasti deh hasil print nya juga akan sama dengan design digital yang saya buat. Jadi kekhawatiran saat mengerjakan sebuah project pun berkurang satu,” ujarnya.

Tim yang Kecil Tetap Bisa Mengerjakan Banyak Hal

Hari ini, Massicot tentu sudah jauh berbeda dari brand yang Amanda mulai lebih dari satu dekade lalu. Tapi ada satu hal yang menarik: timnya masih relatif kecil. Dan mungkin justru ketika sebuah bisnis dijalankan oleh tim kecil, hal-hal yang kelihatannya sepele mulai terasa penting.

amanda mitsuri massicot

Amanda menggunakan iPhone Pro, iPad Pro, dan MacBook Pro dalam aktivitas sehari-harinya, dan menurutnya integrasi antar-device menjadi semakin penting justru ketika sebuah bisnis dijalankan oleh tim yang tidak terlalu besar. Tools yang efisien membuat pekerjaan yang kompleks tetap bisa ditangani tanpa harus membangun organisasi yang besar. Dengan Apple Business misalnya, Amanda bisa managing berbagai company devices, email accounts, dan brand listing dengan satu akun yang sangat aman.

Di sinilah kata ecosystem mulai terasa sedikit lebih masuk akal buat saya. I’ll admit, ecosystem adalah salah satu kata dalam dunia teknologi yang kadang terdengar seperti marketing jargon. Sampai kita melihat bagaimana seseorang sebenarnya menggunakannya. And I do believe, di tangan yang tepat, serta pengetahuan yang mumpuni untuk mengoperasikannya secara maksimal, sebuah gadget itu akan sangat worth it untuk dimiliki.

Karena pekerjaan seorang founder sekaligus designer seperti Amanda tentu nggak terjadi di satu meja, apalagi satu layar. Sebuah ide bisa mulai dari sketsa di iPad ketika sedang di rumah, foto referensi mungkin tersimpan di iPhone, lalu proses berikutnya dilanjutkan lewat MacBook atau iMac ketika sudah waktunya mengerjakan sesuatu dengan layar dan workspace yang lebih besar.

Punya beberapa perangkat tentu menjadi hal yang lumrah buat kita semua. Yang biasanya jadi persoalan justru apa yang terjadi ketika kita berpindah dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Ada file yang harus dikirim dulu, link yang entah tadi dibuka di mana, foto yang harus dipindahkan, atau pekerjaan yang akhirnya harus dimulai lagi dari awal.

Mungkin itu juga sebabnya, ketika Amanda bicara tentang perangkat yang ia gunakan untuk menjalankan Massicot, yang terasa penting bukan sekadar fakta bahwa ia punya berbagai perangkat Apple. It’s how they work together seamlessly. Buat tim yang relatif kecil seperti Massicot, Amanda melihat integrasi antar-device sebagai salah satu hal yang membantu mereka menangani pekerjaan yang kompleks dengan lebih efisien.

amanda mitsuri massicot apple

Amanda merasa dengan menggunakan ecosystem Apple, banyak fitur yang benar-benar memudahkan hidupnya, seperti Continuity. Fitur ini memang dibuat supaya pekerjaan nggak ikut berhenti hanya karena kita berganti layar, karena Continuity membuat kita bisa berpindah layar tanpa harus memulai pekerjaan dari awal.

Handoff misalnya, memungkinkan sebuah pekerjaan yang dimulai di satu device diteruskan di device lainnya. Secara native, fitur ini bekerja pada sejumlah aplikasi seperti Mail, Safari, Maps, Messages, Reminders, Calendar, Contacts, Pages, Numbers, dan Keynote. 

It sounds simple. But think about how often we actually do this. Buka sesuatu dari handphone pas lagi di jalan, baru benar-benar mengerjakannya ketika sampai di depan laptop. Menemukan reference di Safari dari iPad, lalu ingin mengolahnya di Mac. Mulai menulis email dari satu device dan menyelesaikannya di device lain. It’s so easy, right?

amanda mitsuri massicot apple

Ada juga fitur Universal Clipboard, yang mungkin menjadi contoh paling sederhana dari apa yang saya maksud dengan invisible technology. Teks, gambar, foto, bahkan video yang di-copy dari satu perangkat bisa langsung di-paste ke perangkat Apple lainnya. Jadi sebuah link yang ditemukan di iPhone nggak perlu dikirim dulu ke WhatsApp sendiri hanya supaya bisa dibuka di Mac. Ngaku deh, pasti masih ada dari kalian yang masih punya kebiasaan kayak gini. 

Untuk orang yang pekerjaannya sangat visual seperti Amanda, koneksi Mac dan iPad bahkan bisa berjalan lebih jauh. Dengan Sidecar, iPad dapat digunakan sebagai second display untuk Mac. Sementara Universal Control memungkinkan satu keyboard dan trackpad atau mouse digunakan untuk bekerja antara Mac dan iPad. 

amanda mitsuri massicot apple

Lalu ada satu fitur yang menurut saya particularly relevant untuk orang yang menjalankan fashion brand: Continuity Camera!

Kamera iPhone bukan cuma bisa digunakan sebagai webcam untuk Mac. Kita juga bisa mengambil foto atau scan dokumen lewat iPhone atau iPad dan membuat hasilnya langsung muncul di Mac. Bahkan sketch yang dibuat di iPad bisa dimasukkan ke pekerjaan yang sedang dilakukan di Mac melalui Continuity Sketch. 

amanda mitsuri massicot apple

Bayangkan proses product development sehari-hari. Ada sample yang perlu difoto, material yang perlu didokumentasikan, sebuah sketch yang perlu dikirim, atau detail produk yang perlu diperlihatkan ke orang lain. Nggak semuanya membutuhkan professional photoshoot, karena kadang kita cuma butuh foto simple pakai handphone tanpa perlu ribet.

Lalu iPhone Mirroring juga membantu banget saat kita bekerja. iPhone dapat dikontrol dari Mac, termasuk mengakses notifikasi dan Live Activities, tanpa harus terus berpindah perhatian ke layar handphone. 

amanda mitsuri massicot apple

Masing-masing fitur ini sendiri sebenarnya terasa kecil. Tapi, produktivitas nggak selalu datang dari satu teknologi besar yang memangkas pekerjaan dua jam jadi lima menit. Karena coba saja hitung berapa kali dalam satu hari kita mengirim file ke diri sendiri, mencari ulang sebuah link yang tadi dibuka di handphone, memindahkan foto, atau sekadar mencoba mengingat tadi kita buka dokumen ini di mana.

Dan buat bisnis kreatif seperti Massicot, saya rasa ada satu hal yang bahkan lebih penting dari sekadar menghemat waktu: menjaga ide supaya tetap bergerak. Di sini menurut saya ecosystem milik Apple benar-benar membantu Amanda menjalankan Massicot, karena saat mengerjakan sesuatu yang penting, Amanda nggak perlu memikirkan “device mana yang tadi aku pakai untuk bikin design baju ya?”

Dan setelah mendengar cerita Amanda, saya malah merasa bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang justru memudahkan kita untuk memikirkan hal yang sebenarnya ingin kita kerjakan. Dalam kisah Amanda, itu adalah menggambar, membuat cerita, dan terus membangun dunia Massicot tanpa terhambat oleh urusan teknis di tengah proses kreatifnya.

Menariknya, setelah bercerita tentang semua perangkat dan tools yang ia gunakan untuk mendukung “the invisible works” nya, Amanda selalu kembali pada sesuatu yang jauh lebih analog: kemampuan kita untuk melihat.

Menurutnya, seorang kreator tidak bisa terus menunggu mood untuk membuat sesuatu. Kepekaan harus terus diasah karena inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari sesuatu yang sangat sederhana. And I think she’s right, karena teknologi memang bisa membantu mempermudah pekerjaan kita, but instinct and creativity are still very much human.

Photos: Apple, Massicot.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *