
Menelaah Kenyamanan Sepatu Bersama Alan Buanne, Creative Director VIVAIA
Creative Director VIVAIA, Alan Buanne membawa satu perspektif bahwa sepatu yang nyaman seharusnya nggak perlu mengorbankan karakter desainnya.
Ada satu hal yang rasanya cukup familiar dalam dunia fashion, apalagi kalau kita bicara soal sepatu perempuan. Kita tahu sebuah sepatu mungkin akan membuat kaki sakit setelah beberapa jam, tapi tetap memakainya karena desainnya terlalu bagus untuk dilewatkan.
Baca juga: Luxury Inflation: Kenapa Harga Tas Mewah Terus Naik Setiap Tahun?
Contoh gampangnya bisa dari pengalaman saya sendiri. Nggak jarang saya sudah menyiapkan satu pasang sepatu lain di tas kalau memang lagi perlu pakai heels ke acara tertentu. Karena memang menggunakan pointy heels tuh bikin kaki cantik, tapi sejujurnya saya belum menemukan yang nyaman saat dipakai berjam-jam. It’s almost as if discomfort has become part of the experience of looking good.

Kemudian saya jadi penasaran apakah industri fashion sebenarnya sudah terlalu lama meromantisasi ketidaknyamanan tersebut. Dan ketika akhirnya mendapat kesempatan berbincang dengan Alan Buanne, Creative Director VIVAIA, saya memutuskan untuk menanyakannya secara langsung.
“Do you think fashion has romanticized discomfort for too long?”
“I do,” jawabnya tanpa ragu.
Menurut Alan, dunia fashion memang sudah lama mengenal gagasan no pain, no gain. Namun, ia melihat bahwa ekspektasi konsumen terhadap sepatu kini semakin berkembang. Perempuan ingin tampil menarik, tetapi mereka juga menginginkan sepatu yang bisa mengikuti berbagai aktivitas dalam kesehariannya. Dan menurutnya, kedua hal tersebut seharusnya nggak perlu saling bertentangan.
Membawa Pelajaran Tentang Kesabaran dari Florence

Sebelum bergabung dengan VIVAIA pada 2025, Alan memiliki perjalanan karier yang cukup menarik. Desainer kelahiran Australia berdarah Italia dan Peru ini pernah menempuh pendidikan di POLIMODA, Florence, bekerja untuk Nicholas Kirkwood dan Bottega Veneta, serta ikut mendirikan label footwear NEOUS.
Tapi ketika kami berbicara tentang pengalaman yang paling membentuk cara pandangnya terhadap desain, Alan justru kembali ke masa-masa awal ketika ia belajar membuat sepatu.
Perjalanannya dimulai di Sydney, Australia, ketika ia mempelajari pattern making bersama seorang perempuan berlatar belakang teater, Jody. Alan mengingat pengalaman tersebut sebagai salah satu proses pembelajaran terbaik yang pernah ia dapatkan. Ia mempelajari bagaimana konstruksi sepatu bekerja, bagaimana pola dibuat, dan bagaimana detail teknis menentukan bentuk akhir sebuah produk.
Setelah itu, ia melanjutkan pembelajarannya di Florence bersama Roberto Ugolini, seorang master artisan yang dikenal dengan keterampilannya dalam membuat sepatu bespoke. Di sinilah Alan mendapatkan ilmu yang ternyata masih ia bawa hingga sekarang.
Baca juga: Langkah Lembut yang Penuh Karakter dengan Ballet Sneakers
Dalam proses pembuatan sepatu bespoke, seorang klien bisa datang beberapa kali hanya untuk melakukan fitting. Bahkan, menurut Alan, satu pasang sepatu dapat membutuhkan waktu hingga sembilan bulan untuk diselesaikan. Karena akhirnya, hal yang paling membekas baginya bukan sekadar lamanya proses pembuatan sebuah sepatu, karena ternyata Roberto mengajarkannya untuk tidak terburu-buru.
Di tengah dunia yang semakin terobsesi dengan deadline, angka, dan kecepatan produksi, Alan mengingat bagaimana Roberto tetap memberikan perhatian penuh pada setiap tahap pembuatan sepatu, bahkan ketika daftar klien yang menunggu sudah sangat panjang.
“Roberto was always really big on taking your time,” kenangnya.

Bagi Alan, proses tersebut hampir menyerupai meditasi. Bukan hanya tentang bekerja secara perlahan, tetapi benar-benar hadir secara mental ketika sedang membuat sesuatu. Ketika memegang sebuah sepatu, apakah kita benar-benar memperhatikan apa yang sedang dikerjakan? Apakah kita menghargai setiap detail dan prosesnya?
Menariknya, Alan juga mengingat bahwa waktu justru terasa berlalu begitu cepat ketika ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Dan menurut saya inilah salah satu hal yang membuat perjalanan Alan cukup menarik. Ia mempelajari footwear dari tradisi craftsmanship yang sangat personal dan membutuhkan kesabaran, sebelum akhirnya masuk ke dunia pengembangan produk modern yang bergerak dengan teknologi dan sistem produksi berbeda.
Ada yang Harus Dipelajari Kembali Saat Bergabung dengan VIVAIA
Dengan pengalaman yang begitu kuat dalam traditional shoemaking, saya juga penasaran tentang apa yang justru harus Alan tinggalkan atau pelajari kembali ketika bergabung dengan VIVAIA?
Alan menjelaskan bahwa salah satu penyesuaian terbesarnya saat bergabung dengan VIVAIA adalah memahami bahwa bagaimana proses development footwear itu bisa diubah dengan kehadiran teknologi.

Di VIVAIA, ia bekerja bersama tim inovasi dan product development yang memiliki pengetahuan serta kemampuan teknis masing-masing. Ia juga terus mengikuti perkembangan teknologi, material, dan proses produksi melalui kerja sama dengan tim serta kunjungan ke pemasok dan pabrik.
Bagi Alan, beberapa metode tradisional yang dulu ia pelajari kini memiliki alternatif yang lebih efisien berkat perkembangan teknologi. Jadi baginya, semua ilmu craftsmanship yang telah ia pelajari memang tidak akan ditinggalkan walau ia bergabung dengan VIVIA, tetapi bisa menjadi lebih berkembang lagi dengan cara mempercayai keahlian orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman Alan ini juga memperlihatkan bahwa memiliki dasar craftsmanship yang kuat bukan berarti harus menolak teknologi baru, karena justru kemampuan memahami keduanya bisa membuka pendekatan desain yang berbeda.
Ternyata Sepatu Nyaman Juga Bisa Berkarakter
Pada September 2026, VIVAIA memperkenalkan RE:work FW26 di Indonesia, koleksi penuh pertama di bawah arahan kreatif Alan Buanne sejak ia bergabung sebagai Creative Director.
Seperti namanya, RE:work mengambil inspirasi dari perubahan cara perempuan bekerja dan berpakaian untuk bekerja. Siluet yang selama ini familiar dalam wardrobe profesional, seperti loafers, slingbacks, heels, hingga boots, diinterpretasikan kembali melalui permainan proporsi, material, dan detail yang lebih ekspresif.



Ada Buna, clog mule dengan bentuk yang lebih relaxed; Addison, pointed-toe slingback yang terlihat polished; hingga Scarlett, kitten heels berbahan recycled velvet dengan detail whipstitch.
Namun, di balik pendekatan desain yang lebih fashion-forward, VIVAIA tetap mempertahankan comfort sebagai salah satu fondasi produknya. Dan hal ini bikin saya excited, membayangkan bahwa saya bisa menggunakan heels yang cantik dengan tanpa perlu menomorduakan kenyamanan.
Bagi Alan, tantangannya bukan sekadar menciptakan sepatu nyaman yang terlihat lebih fashionable. Ia ingin membangun karakter desain yang bisa dikenali bahkan tanpa melihat logo brand-nya. Dan ketika saya bertanya seperti apa identitas sepatu VIVAIA di era Alan Buanne, ia mengatakan bahwa ia ingin menciptakan sesuatu yang memiliki a twist.
“Something that catches your eye,” jelasnya.

Alan mengatakan bahwa ia selalu melihat sepatu dari berbagai sudut. Bukan hanya bagian depan atau siluet yang terlihat ketika dikenakan, tetapi juga sol, bagian samping, belakang, hingga detail-detail kecil yang mungkin nggak langsung diperhatikan. Karena menurutnya detail tersebut bisa membuat sebuah sepatu terasa berbeda.
Ia ingin orang memiliki respons emosional ketika melihat desainnya. Bahkan ketika mereka nggak bisa menjelaskan secara spesifik apa yang membuat sepatu tersebut menarik, ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Maybe if they don’t even know exactly what it is, they just feel like there’s something about it that’s got an edge.”
Menurut saya, ini menarik karena memperlihatkan bahwa Alan nggak hanya berbicara tentang comfort sebagai persoalan teknis, tapi ia juga ingin sepatu VIVAIA memiliki personality. Dan to be honest, hal ini memang terpancar di koleksi pertamanya untuk VIVAIA.
Mencari Sisi Lain dari Keindahan

Pendekatan tersebut juga terlihat dalam The Other Side of Nature, lini desain yang diperkenalkan bersama koleksi FW26.
Berbeda dari interpretasi alam yang biasanya identik dengan bunga bermekaran dan warna-warna cerah, Alan justru melihat keindahan pada fase ketika tanaman mulai layu, berubah bentuk, dan bersiap memasuki siklus berikutnya.
Inspirasi tersebut diterjemahkan melalui material velvet serta botanical embroidery yang menggambarkan bentuk batang, daun, dan elemen organik. Hasilnya adalah koleksi dengan karakter yang terasa lebih gelap, ekspresif, dan sedikit nostalgic.



Melalui lini ini, Alan seolah ingin memperlihatkan bahwa sesuatu yang terlihat muram pada pandangan pertama tetap bisa memiliki keindahannya sendiri. Dan kalau dikaitkan dengan keseluruhan pendekatan desainnya, saya rasa ada benang merah yang cukup jelas.
Alan tertarik pada detail, karakter, dan cara sebuah desain bisa membangkitkan perasaan. Sesuatu yang mungkin sudah ia pelajari sejak masa-masa awal membuat sepatu dengan tangan. Bedanya, sekarang ia membawa pendekatan tersebut ke dalam konteks brand yang juga harus menjawab kebutuhan perempuan modern.
Sekarang Kita Nggak Perlu Memilih antara Comfort dan Style
Ketika kembali membicarakan soal ketidaknyamanan dalam fashion, Alan mengingatkan bahwa perempuan saat ini menjalani kehidupan yang semakin dinamis. Mereka bekerja, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, mengurus keluarga, dan menjalani begitu banyak peran dalam satu hari. Yes girl, we need shoes that let us keep moving, without having to think about our feet.

Karena itu, menurutnya, konsumen kini mengharapkan lebih banyak dari sepatu yang mereka kenakan. Bukan hanya desain yang menarik, tetapi juga kenyamanan yang memungkinkan mereka menjalani aktivitas tanpa harus terus-menerus memikirkan kondisi kaki. Tapi Alan juga cukup realistis, karena saat saya bertanya tentang kenapa seringkali sepatu yang cantik itu terasa tidak nyaman dipakai, ia mengatakan bahwa kita tidak bisa memungkiri kalau semua orang memang ingin terlihat menarik.
Kita nggak perlu berpura-pura bahwa penampilan tidak penting, karena memang sebagai manusia kita pasti ingin mengekspresikan diri, dan deep down keinginan untuk memakai sesuatu yang indah itu akan selalu ada. Maka dari itu, saya rasa pertanyaan tentang “kenapa sesuatu yang indah itu harus terasa menyakitkan untuk dikenakan” sangatlah wajar untuk muncul dari para konsumen. Rasanya dengan teknologi, inovasi material, dan pendekatan desain yang terus berkembang, keduanya tuh bisa diseimbangkan dengan baik.
Melalui obrolan langsung antara saya dan Alan beberapa waktu kemarin, akhirnya saya melihat bahwa Alan bisa memperlihatkan bagaimana craftsmanship, teknologi, dan kenyamanan sebenarnya bisa melebur dengan baik, serta melebur jadi desain yang indah.


