
Mengapa Fashion Kini Terasa Seperti Peran yang Harus Dimainkan?
Apakah istilah fashion jadi mengotak-ngotakkan kebebasan berekspresi?
Dahulu, hubungan kita dengan pakaian terasa jauh lebih sederhana. Kita mengenakan sesuatu karena suka, merasa cocok, atau karena pakaian itu perlahan menjadi bagian dari diri kita. Gaya pribadi terbentuk secara alami dari waktu ke waktu, dari apa yang kita beli, pinjam, atau temukan. Namun sekarang, proses itu terasa jauh lebih elevated. Kita tidak lagi sekadar ditanya apa yang kita suka pakai, melainkan seperti apa kita ingin terlihat. Munculah istilah-istilah seperti clean girl, mob wife, office siren, coastal grandmother, blokette, sampai coquette. Fashion mulai terasa seperti tes kepribadian dengan hasil yang bisa langsung dipakai.

Hal yang menarik, istilah-istilah ini tidak hanya soal pakaian. Clean girl, misalnya, bukan hanya soal rambut rapi dan baju warna netral. Di media sosial, gaya itu datang bersama gambaran tentang perempuan yang hidupnya teratur, disiplin, dan produktif. Begitu juga dengan mob wife yang lekat dengan jaket bulu, motif macan, dan perhiasan emas, yang menawarkan karakter glamor dan berani.

Tren biasanya memberi tahu kita pakaian apa yang sedang populer. Namun, gaya estetika seperti ini memperlihatkan kita seperti apa kepribadian orang yang memakainya. Sebuah rok pensil bukan lagi sekadar rok, tapi membawa citra perempuan yang profesional dan percaya diri karena diasosiasikan dengan office siren. Pertanyaan tentang “apa gaya kamu?” kini berubah menjadi pilihan yang lebih instan: Kamu tim clean girl atau mob wife? Kita tidak perlu repot menjelaskan selera dari awal, cukup pilih satu label dan biarkan orang lain langsung tahu.
Sesuatu yang tadinya butuh waktu lama untuk berkembang di masyarakat, sekarang bisa diberi nama, dikemas, dan disebarkan dalam hitungan hari berkat media sosial. Algoritma lalu bekerja memastikan kita terus melihat hal yang sama berulang-ulang. Akibatnya, kita ingin tampil beda, tetapi justru berakhir dengan memakai template yang sama seperti kebanyakan orang. Layaknya buku katalog yang menyajikan berbagai pilihan, internet menyediakan begitu banyak referensi tentang bagaimana seharusnya kita terlihat.

Di balik tampilan yang seolah santai, ada tuntutan tersendiri. Contohnya gaya clean girl yang kelihatannya simpel; rambut rapi, kulit glowing, baju polos, tapi aslinya membawa standar hidup tertentu yang cukup melelahkan, mulai dari rutinitas pagi yang ketat, olahraga, sampai cara mengatur isi kamar agar terlihat estetik. Jadi, meskipun pakaiannya terlihat makin sederhana, pesan di baliknya justru makin rumit. Kita tidak hanya membeli pakaian, tapi juga membeli gambaran ideal tentang bagaimana hidup kita seharusnya dijalani.
Meski begitu, ada sisi yang cukup seru dari hal ini. Tren fashion masa kini memberi kita kebebasan untuk berganti-ganti karakter dengan mudah. Setelah bosan menjadi clean girl, kita bisa beralih menjadi mob wife, lalu mencoba gaya office siren di bulan berikutnya. Kita bisa mencoba menjadi versi diri yang berbeda hanya dengan mengganti pakaian, makeup, dan lagu di playlist.
Mungkin ironinya adalah, di saat kita punya semakin banyak cara untuk mendefinisikan diri lewat pakaian, kita justru semakin sering mengenakan identitas yang sudah didefinisikan orang lain. Clean girl, mob wife, office siren, semuanya memberi kita bahasa untuk menjelaskan diri, tetapi juga formula tentang bagaimana seharusnya kita terlihat. Pada akhirnya, fashion mungkin tidak lagi tentang “Who are you?”, melainkan “Which version of you would you like to be today?”
Images: Dok. Istimewa


