Regent Bali Canggu: Sisi Lain dari Hingar Bingar Canggu

Canggu identik dengan hingar-bingar dan semaraknya kehidupan pesisir. Dari deretan cafè, restoran serta beach club teranyar, hingga berbagai aktivitas wellness yang terus bermunculan, kawasan ini berkembang menjadi salah satu destinasi paling dinamis di Bali. Regent Bali Canggu hadir sebagai sebuah antitesis. Kehadiran Regent tidak mengisolasi diri dari Canggu, tetapi menawarkan cara yang berbeda untuk menikmatinya. Canggu yang lebih tenang dan dengan ritme yang terasa lebih pelan. 

Regent Bali Canggu merupakan salah satu opening yang dinanti. Menjadi rumah bagi Regent Spa & Wellness pertama di dunia, sekaligus sejumlah restoran yang dikurasi dengan serius, termasuk Sazón dan CURE Bali yang berada di bawah arahan Chef Andrew Walsh, resort ini menunjukkan ambisi untuk menjadi lebih dari sekadar tempat bermalam. Wellness, dining, desain, dan hospitality dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan experience yang dapat disesuaikan dengan minat tamu.

Menurut Resort Manager Regent Bali Canggu, Clement Cerda, karakter Canggu yang dinamis justru menjadi peluang bagi Regent. Resort ini tidak perlu berkompetisi dengan energi di luar propertinya; sebaliknya, ia memberikan pilihan bagi traveler yang ingin tetap dekat dengan pusat keramaian tanpa harus terus berada di dalamnya sembari menikmati apa saja yang sudah tersedia di properti ini. 

Luxury without The Announcement

Regent Bali Canggu dirancang oleh WATG dengan mengambil inspirasi dari struktur desa tradisional Bali dan lanskap terasering sawah yang dahulu menjadi bagian kuat dari karakter Canggu. Bangunan-bangunan tiga hingga empat lantai dibuat rendah dan mengelilingi courtyard serta kolam, menciptakan pengalaman yang terasa lebih seperti sebuah desa daripada sekadar kompleks resort yang megah dan monumental. 

Sementara, interiornya yang diciptakan oleh Hirsch Bedner Associates (HBA) memadukan bahasa desain kontemporer dengan material, tekstil, serta elemen khas Nusantara. Palet warna hangat seperti cokelat, hijau, dan biru membuat keseluruhan properti terasa tenang dan semakin menunjukkan distinct character. Bahkan detail terkecil terasa diperhatikan. Salah satunya adalah bathtub dengan ukiran yang menjadi bagian dari desain kamar.

Berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Regent Bali Canggu memiliki 150 kamar yang terdiri dari suite, villa, dan penthouse. Studio Suite berukuran 76 meter persegi menjadi salah satu tipe entry-level, sementara pilihan akomodasi berkembang hingga One Bedroom Beachfront Villa with Private Pool dan Two Bedroom Penthouse Oceanfront with Private Pool.

Untuk Studio Suite yang kami tempati, ruang tidur, kamar mandi, ruang tamu, serta balkon menghadap ke area kolam dan terlihat pula Pantai Batu Bolong dari kejauhan. Namun, beberapa detail justru menjadi hal yang paling terasa selama menginap: mini bar di kamar dapat dinikmati tanpa biaya tambahan, sementara layanan unlimited laundry tersedia sebagai bagian dari pengalaman menginap. Hal tersebut terasa selaras dengan satu nilai yang disebut Clement sebagai bagian penting dari Regent: generosity. Generosity di sini bukan semata tentang memberikan lebih banyak, akan tetapi terasa dalam bagaimana sebuah stay dibuat agar tamu tidak perlu terlalu banyak berpikir tentang kebutuhan-kebutuhan kecil selama berada di sini.

A Resort That Changes The Pace

Desain Regent pun memainkan peran penting dalam perubahan pace yang langsung terasa saat memasuki kawasan Regent. Jalan masuk dibuat berkelok dan perlahan menjauhkan tamu dari jalan utama Canggu yang ramai, sebelum membawa mereka menuju arrival pavilion yang teduh dan dikelilingi lanskap tropis.

Setelah melewati area kedatangan, pengalaman kemudian bergerak melalui courtyard, kolam, restoran, spa, dan ruang-ruang terbuka sebelum berujung pada viewing lounge yang menghadap langsung ke laut.

Hal tersebut terasa pula dalam berbagai fasilitas yang tersedia di dalam resort. Pagi dapat dimulai dengan aktivitas olahraga, dilanjutkan sarapan made to order di Taru yang menyajikan pilihan Indonesia, Asia, dan Western serta pilihan seperti buah segar, cured meats, jajan pasar, jamu, dan masih banyak lagi.

Kemudian ada Regent Spa & Wellness dengan rangkaian wellness yang mencakup meditation pods sebelum treatment, hingga penggunaan elemen seperti crystal dan LED pada treatment The Massage Revolution yang berlangsung selama 90 menit. Regent Spa & Wellness sendiri menjadi salah satu elemen penting dalam identitas resort ini. Konsep wellness-nya dirancang dengan keseimbangan antara aktivitas dan relaksasi, dengan hydro-wellness facilities seperti vitality pool, ice bath, dan sauna sebagai bagian dari pengalaman.

Sisa hari dapat dihabiskan di salah satu dari beberapa kolam yang ada, berolahraga di gym, atau sekadar menuju Beach House untuk menikmati sore dengan kelapa muda, fresh oysters, atau fritto misto sambil menunggu sunset.

Fasilitas lain yang worth the upgrade apabila tidak memesan tipe villa adalah akses ke The Regent Club. Di The Regent Club, tamu dapat menikmati all day dining, afternoon tea, cocktails dan berbagai offering menarik lainnya.

More Privacy, More Personal

Bagi Clement, konsep luxury hospitality sendiri telah berubah. Jika dulu luxury mungkin lebih banyak diasosiasikan dengan skala, fasilitas, atau kemegahan, traveler masa kini justru semakin menghargai privacy, kemampuan untuk membentuk pengalaman sesuai preferensi pribadi, dan rasa bahwa sebuah stay benar-benar personalized. 

Clement percaya bahwa teknologi dan fasilitas tidak pernah benar-benar dapat menggantikan manusia dalam hospitality. Pada akhirnya, koneksi antarmanusia tetap menjadi bagian yang membuat sebuah pengalaman yang melekat lebih lama dalam ingatan.

Selama berada di Regent, hal ini justru terasa dalam interaksi-interaksi kecil. Saat sarapan, misalnya, beberapa server sudah mengetahui preferensi kopi para tamu yang datang secara rutin. Tamu yang kembali untuk bersantap pun disambut seperti seseorang yang sudah dikenal, bukan sekadar nomor kamar.

Menurut Clement, bahkan setelah meninggalkan resort, tidak sedikit tamu yang masih berkomunikasi dengannya. Mungkin inilah bentuk luxury yang paling sulit direplikasi: ketika hospitality tidak berhenti pada saat tamu check-out, melainkan tumbuh menjadi hubungan yang terasa personal.

Dining with A Different Character

Dining menjadi bagian lain yang membuat Regent terasa lebih dari sekadar resort.

Di satu sisi ada Sazón, restoran yang berada di sisi Batu Bolong dan membawa karakter Mediterranean yang lebih convivial. Pengaruhnya terasa melalui penggunaan olive oil, za’atar, tahini. Ruang Sazón terasa lebih santai, terbuka, dan dirancang untuk menikmati makanan bersama. Pendekatannya menempatkan beragam protein yang dipanggang dengan api, serta roti dalam format yang generous dan cocok untuk berbagi. Think of dishes like Mediterranean Hummus dengan focaccia bread, Daily Catch Ceviche yang segar, dan untuk main course, selain 14 Days Dry Aged Duck yang dipadukan dengan duck bone cinnamon jus dan za’atar spices, kami mencicipi Grilled Market Fish dengan fish bone butter, pickled fennel, dan garlic praline. 

Terletak di tepi laut, CURE membawa karakter European-Asian dining ke dalam suasana yang lebih intimate. Restoran ini merupakan kelanjutan dari konsep CURE milik Chef Andrew Walsh yang sebelumnya meraih bintang Michelin di Singapura. Di Bali, pendekatan tersebut diterjemahkan melalui teknik kuliner Eropa yang dipertemukan dengan Asian influence dan bahan-bahan lokal Indonesia. Chef Arvin Tjandra selaku Chef De Cuisine di CURE menerjemahkan konsep besutannya dengan apik.

CURE tak terasa seperti restoran yang ingin memamerkan tekniknya. Teknik justru digunakan untuk membuat bahan utama berbicara, mulai dari seafood dan premium meats hingga eksplorasi teknik curing yang menjadi bagian penting dari identitasnya. We really enjoyed the starters, especially Prawn Toast and Potato Bread with Creme Fraiche Butter and Salmon Roe. Another must? Their signature Roasted Aged Duck with beetroot ketchup and black sambal! Format sharing-style juga membuat pengalaman di meja terasa lebih cair. Alih-alih sebuah pengalaman makan yang terlalu formal, hidangan datang untuk dinikmati bersama, dengan pemandangan Samudera Hindia menjadi latar. 

Regent Bali Canggu pun juga memiliki komitmen untuk menjadi destinasi kuliner berkelas dengan menghadirkan chef dari restoran yang meraih bintang Michelin melalui program Chef’s Table. Program ini menurut Clement, memungkinkan tamu untuk dapat menikmati hidangan para chef dari restoran berbintang Michelin, tanpa harus meninggalkan Indonesia.

Still Evolving

Sebagai resort yang relatif baru, pengalaman di Regent Bali Canggu pun masih terus berkembang.

Regent Kids Club akan menambah pilihan aktivitas untuk keluarga, lengkap dengan berbagai kegiatan dan playground. Dari sisi dining, The Curing Room yang berada di dalam CURE juga dipersiapkan sebagai pengalaman yang lebih intim dengan hanya 12 kursi. Konsep chef’s counter ini akan mengeksplorasi teknik curing, ageing, dan preservation dengan pengaruh tradisi kuliner Jepang. 

Sementara itu, sejak tahun lalu Chef’s Table di Regent juga menjadi ruang bagi para chef dari restoran berbintang Michelin yang berkunjung ke Bali untuk menghadirkan pengalaman kuliner mereka sendiri, membawa sedikit pengalaman gastronomi global kepada tamu tanpa harus meninggalkan pulau.

Canggu di luar sana akan terus bergerak. Restoran baru akan terus bermunculan, beach club akan terus berganti, dan jalanan Batu Bolong akan tetap ramai. Regent memahaminya dan tidak mencoba mengubahnya, namun menawarkan cara lain untuk menikmati Canggu, dengan gaya khas Regent. 

Photos: Regent Bali Canggu

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *