
Adrie Basuki dan Kain Marmer®: Olahan Limbah Tekstil yang Mendukung Circular Fashion di Indonesia
Bukan hanya mendesain dan menciptakan karya busana, Adrie Basuki adalah sosok desainer yang tekun mendaur ulang limbah fashion dan memberdayakan para perajin lokal.
“Ketika teman-teman pelaku industri fashion bertanya pada saya bagaimana dampak kondisi ekonomi negara saat ini dengan bahan baku busana, saya selalu jawab bahwa saya tidak banyak membeli kain baru. Kegiatan utama saya adalah mengolah sampah yang sudah ada,” ungkap Adrie Basuki ketika ditemui di media gathering tentang Kain Marmer®, 19 Agustus lalu.
Bagi TLR, ini adalah pernyataan yang sangat menarik, terutama di dunia fashion yang terus berputar cepat. Kini, industri fashion terus berkembang sebagai salah satu penggerak industri kreatif. Namun, di balik pertumbuhannya, ada persoalan yang semakin sulit diabaikan: limbah tekstil. Jutaan ton pakaian dan sisa produksi berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya. Material seperti polyester dan blended fabric juga masih menjadi tantangan karena tidak mudah didaur ulang dengan teknologi konvensional.
Di tengah persoalan tersebut, desainer Adrie Basuki memilih melihat limbah dari sudut pandang berbeda. Baginya, pakaian yang sudah tidak digunakan bukan berarti kehilangan nilai. Justru, material tersebut dapat menjadi titik awal untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Gagasan ini yang kemudian melahirkan Kain Marmer®, inovasi material yang mengubah pakaian bekas dan limbah tekstil menjadi lembaran baru dengan karakter visual menyerupai marmer alami. Sebagai Founder Kain Marmer®, Adrie tidak hanya menciptakan material alternatif, tetapi juga membawa perspektif baru dalam fashion: sustainability bukan semata tentang menggunakan material baru yang lebih ramah lingkungan, melainkan tentang memperpanjang usia material yang sudah ada.







Salah satu hal yang membuat Kain Marmer® menarik adalah kemampuannya mengolah berbagai jenis limbah tekstil, mulai dari katun, polyester, hingga blended fabric. Alih-alih mengembalikan limbah menjadi benang, material tersebut diproses melalui tahapan pemilahan, pencacahan, pemadatan, hingga dibentuk kembali menjadi lembaran.




















Hasilnya adalah permukaan dengan tekstur dan pola yang menyerupai marmer. Karena komposisi limbah yang digunakan berbeda-beda, setiap lembar memiliki motif dan karakter yang unik, one of a kind. Tidak ada dua lembar yang benar-benar sama. Di titik ini, material daur ulang tidak lagi sekadar menjadi pilihan yang lebih bertanggung jawab, tetapi juga menjadi bagian dari proses kreatif.
Sejak dikembangkan pertama kali pada 2020, Kain Marmer® terus berkembang dari eksperimen material menjadi sebuah platform inovasi. Hingga 2025, Adrie dan tim telah mentransformasikan 6.689 potong pakaian bekas, mengolah 949 kilogram limbah tekstil, menghasilkan 779 meter Kain Marmer®, serta menciptakan 906 produk fashion. Eksplorasinya mencakup busana ready-to-wear, couture, aksesori, karya seni, dan berbagai bentuk desain lainnya.
Lebih hebatnya lagi, Adrie membangun Kain Marmer® bersama dengan 18 orang perajin lokal asal Bogor, yang semuanya adalah perempuan. Bukan cuma memberikan edukasi dari nol seputar fashion dan pengolahan sisa kain, tapi di dalam kolaborasi ini Adrie menunjukkan bahwa mewujudkan lingkungan yang lebih lestari bisa beriringan dengan menggandeng perempuan untuk lebih berdaya, baik secara kemampuan maupun secara finansial.
Semakin Dikenal Luas
Perjalanan Adrie dalam circular fashion semakin mendapat perhatian setelah ia meraih gelar Pemenang Lomba Perancang Mode 2021. Sejak itu, isu keberlanjutan menjadi bagian konsisten dari praktik kreatifnya dan dibawa ke berbagai panggung, termasuk Jakarta Fashion Week, Plaza Indonesia Fashion Week, serta Jakarta Fashion & Food Festival.





Namun, bagi Adrie, fashion tidak berhenti pada persoalan material. Karya-karyanya juga kerap membawa cerita tentang manusia. “Transforma”, misalnya, menjadi penghormatan bagi para penyintas kanker dan semangat untuk bangkit. “Benang Jiwa”, yang dipresentasikan bersama Prisia Nasution, mengangkat kisah harapan dan ketangguhan para penyintas kanker. Sementara koleksi terbarunya, “Jantung Nadi”, mengeksplorasi isu kesehatan jantung melalui interpretasi batik kontemporer.




Pendekatan ini kemudian membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Adrie pernah bekerja sama dengan UNIQLO dalam program yang mengangkat semangat keberlanjutan pada 2022, serta berkolaborasi dengan Sofitel pada 2023 untuk mempertemukan hospitality dengan desain dan craftsmanship Indonesia. Pada 2026, kolaborasi bersama Mazda Indonesia kembali mempertemukan inovasi material, desain, dan filosofi craftsmanship dalam konteks lintas industri.
Kain Marmer® pun perlahan bergerak melampaui fashion. Material ini memiliki potensi untuk diaplikasikan pada aksesori, karya seni, interior, hingga berbagai kebutuhan industri kreatif lainnya. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa material hasil daur ulang dapat memiliki kehidupan yang panjang ketika dipertemukan dengan desain dan kreativitas.
Semangat lintas industri tersebut turut terlihat dalam pertemuan sore ini yang didukung oleh Ristorante Metro Pondok Indah. Mengusung pengalaman bersantap yang lebih elegan dan personal, restoran ini membawa pendekatan artisan Italia melalui perhatian terhadap kualitas bahan, proses pengolahan, dan detail penyajian. Kolaborasi ini menjadi ruang pertemuan antara gastronomi, desain, dan kreativitas, tiga bidang yang sama-sama memiliki perhatian pada proses dan craftsmanship.
Di luar inovasi material, Adrie juga menjadikan Kain Marmer® sebagai sarana untuk menciptakan dampak sosial. Melalui workshop, pelatihan, dan berbagai kolaborasi, ia membuka ruang bagi komunitas untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sekaligus peluang ekonomi kreatif. Programnya melibatkan penyintas kanker, perempuan dari komunitas rentan, ibu rumah tangga, seniman neurodivergent, pengrajin lokal, hingga komunitas kreatif.
Di sinilah konsep circular fashion yang dibawa Adrie terasa lebih luas. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah material digunakan kembali dan dibuat menjadi karya-karya baru, tetapi juga bagaimana manusia diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkarya.
“Bagi saya, circular fashion bukan sekadar menggunakan material daur ulang. Circular fashion adalah tentang memberi kesempatan kedua, kepada material, kepada manusia, dan kepada cerita yang pernah ada. Ketika sebuah kain memperoleh kehidupan baru, saya percaya harapan juga ikut lahir bersama proses itu,” ujar Adrie Basuki.
Melalui proses panjang Kain Marmer®, Adrie Basuki menunjukkan kalau “eco-friendly”, “sustainable fashion”, atau “conscious fashion”, bukanlah sekadar kata-kata atau hanya ungkapan di permukaan, tapi dilakukan sepenuh hati melalui perjalanan yang tidak instan.
Images: Courtesy of Adrie Basuki


