
Apa Makna Penutup Wajah di Maison Margiela?
Maison Margiela menggelar runway di luar Paris untuk pertama kalinya. Creative Director Glenn Martens membawa Maison Margiela untuk collection gabungan Ready-To-Wear dan Artisanal Fall/Winter 2026 ke Shanghai, sebagai bentuk keterbukaan dan keinginan untuk terkoneksi dengan market yang lebih luas. Keputusan ini tentu tidak random, mengingat China merupakan salah satu pusat luxury terbesar dengan masyarakat yang sangat beragam dan pasar yang begitu besar.

Di luar lokasi runway yang megah dan tidak konvensional, yang kali ini di tengah tumpukan container, visual lain yang paling mencolok dari show ini adalah penggunaan penutup wajah dengan beragam tekstur dan warna. Elemen yang secara sengaja menyembunyikan identitas setiap model ini pun menjadi perbincangan terkait kelayakannya. Banyak yang melihatnya sebagai bentuk penghapusan identitas, bahkan menganggapnya menyulitkan para model saat berjalan. Namun, penutup wajah ini sebenarnya memiliki intensi dan makna yang sangat berbeda dalam sejarah Maison Margiela.

Penggunaan penutup wajah di Maison Margiela merupakan salah satu house code paling ikonis. Elemen ini pertama kali muncul pada runway debut Maison Margiela oleh Martin Margiela sendiri, Spring/Summer 1989 yang inovatif di Café de la Gare. Dalam koleksi tersebut juga hadir sepatu ikonis Margiela yang terinspirasi dari alas kaki tradisional Jepang, Tabi, serta detail unfinished dan four stitches logo yang kini menjadi identitas rumah mode tersebut. Pemakaian penutup wajah ini menjadi salah satu cara Martin Margiela menekankan ide anonimitas, memaksakan audiens untuk fokus sepenuhnya pada pakaian yang dipresentasikan.

Penutup wajah tersebut kembali diaplikasikan pada runway Spring/Summer 1996, yang semakin mengukuhkannya sebagai ciri khas rumah mode ini. Tradisi ini berlanjut pada koleksi Fall/Winter 2012 dengan penutup wajah yang dipenuhi kristal. Sebuah ide yang merupakan hasil karya Matthieu Blazy, yang kini menjabat sebagai Creative Director Chanel. Karya spesifik inilah yang kemudian juga dikenakan Kanye West saat tur Yeezus pada tahun 2013. Lalu pada Fall/Winter 2020, John Galliano menghadirkan versi cut-out yang menandai pendekatannya yang lebih teatrikal dan eksperimental.
Namun di tangan Glenn Martens, penutup wajah hadir sebagai perpaduan antara inti anonimitas Maison Margiela dengan sifat eksperimental khas Galliano dan Martin sendiri. Ia menghadirkan berbagai jenis penutup wajah dalam koleksi Artisanal 2025 hingga show 2026 yang baru saja diselenggarakan di China. Mulai dari yang terbuat dari plastik, kulit, pecahan porselen, cashmere, stickers, hingga pecahan kristal.

Pendekatan Glenn memang menuai banyak kritik, terutama terkait fungsionalitas dan intensi di balik mahakarya konstruksi dan desain pada setiap look-nya. Namun pada akhirnya, ia hanya memberikan homage terhadap house codes yang telah lama menjadi DNA Margiela, tanpa intensi negatif. Meneruskan house code dengan semangat positif yang penuh ide dan kreativitas.
Sebagai penyimak dari brand yang sangat dikenal akan inovasi dan pendekatan radikalnya, tentu banyak yang terus penasaran dan antusias melihat bagaimana masa depan Maison Margiela akan berkembang di bawah Glenn Martens. Apakah ia akan terus menjaga anonimitas sebagai warisan, atau justru mendorongnya menuju bentuk ekspresi baru yang lebih progresif?
mages: Courtesy of Instagram/ @MaisonMargiela, Pinterest, Getty Images


