
Aturan Sunyi di Balik Pakaian yang Kita Kenakan
Pakaian bukan sekadar sesuatu yang kita kenakan. Ada banyak kisah di baliknya, mulai dari faktor norma sampai budaya.
âBanyak aspek dalam hidup kita dibentuk oleh dinamika kekuasaan,â setidaknya itu yang kerap muncul dalam berbagai perbincangan tentang bagaimana sistem bekerja mengatur masyarakat. Jika pengaruh tersebut dalam ranah ekonomi sudah sering dibahas, lalu bagaimana dengan fashion?
Apakah cara kita berpakaian, terutama perempuan, juga lahir dari keputusan, norma, dan struktur yang sama, hingga membentuk perubahan estetika dari waktu ke waktu. Dalam banyak kasus, jawabannya ya, meski tidak selalu secara langsung.
Pengaruh tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk aturan tertulis, tetapi bekerja melalui perubahan nilai, kebijakan, dan norma yang menentukan apa yang dianggap pantas, modern, atau mencerminkan status. Cara berpakaian pun menjadi hasil dari proses yang lebih besar, bukan semata pilihan personal.
Pada masa pra-kolonial, cara berpakaian perempuan di Nusantara belum distandarisasi. Kebaya atau bentuk awalnya sudah dikenal, tetapi belum menjadi penanda status sosial yang kaku. Perbedaan kelas lebih terlihat dari bahan dan aksesori, bukan jenis pakaian. Di beberapa daerah, perempuan juga berpakaian lebih terbuka sesuai norma lokal dan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa cara berpakaian sejak awal bersifat dinamis, mengikuti nilai dan struktur sosial yang berkembang.

Periode kolonial kemudian mengubah hal tersebut secara signifikan. Cara berpakaian menjadi penanda yang jelas dari struktur kekuasaan. Pemerintah Hindia Belanda secara tidak langsung membentuk hierarki sosial melalui penampilan, di mana masyarakat Eropa mengenakan busana Barat sebagai simbol status dan otoritas, sementara pribumi dibatasi dalam pakaian tertentu yang menegaskan posisi mereka di lapisan bawah.
Memasuki masa pasca-kolonial hingga Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, cara berpakaian perempuan semakin dipengaruhi peran yang dibentuk negara. Konsep “ibuisme” yang diperkenalkan Julia Suryakusuma, menempatkan perempuan sebagai istri dan pengelola rumah tangga. Lewat organisasi seperti Dharma Wanita dan PKK, negara ikut membentuk standar penampilan yang rapi, sopan, dan seragam. Pilihan berpakaian tidak lagi sepenuhnya personal, melainkan mengikuti norma yang dilembagakan, dengan ruang ekspresi yang semakin terbatas.
Baca juga: Ketika Tren Tas Kerap Berputar Seiring Waktu

Pada akhir Orde Baru, tubuh perempuan menjadi salah satu ruang paling nyata dari tarik-menarik kepentingan negara. Penggunaan jilbab di sekolah negeri sempat dibatasi melalui aturan seragam nasional, dengan alasan keseragaman dan netralitas. Namun di balik itu, kebijakan tersebut memperlihatkan bagaimana negara berusaha mengontrol ekspresi identitas di ruang publik, bahkan hingga ke ranah personal seperti cara berpakaian. Setelah Reformasi, pembatasan ini perlahan dilonggarkan, dan jilbab justru menjadi semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Pada awal 2000-an pasca Reformasi, cara berpakaian perempuan mulai lebih beragam seiring iklim politik yang lebih terbuka dan ekonomi yang perlahan pulih. Kebebasan berekspresi terlihat lebih jelas dibanding periode sebelumnya, ditandai dengan masuknya pengaruh global dan munculnya gaya urban di kota-kota besar. Di sisi lain, pertumbuhan kelas menengah dan pasar konsumsi mendorong fashion menjadi bagian dari identitas sekaligus komoditas, sementara media dan industri mulai membentuk tren baru.

Saat ini, munculnya tren silent luxury dapat dibaca sebagai refleksi dari kondisi ekonomi sekaligus pergeseran cara memaknai status. Di tengah kejenuhan terhadap konsumsi yang serba mencolok, sebagian orang beralih ke gaya yang lebih tenang dan minimal. Nilai tidak lagi ditampilkan secara eksplisit, tetapi disematkan pada kualitas dan kesan understated. Meski terlihat lebih personal, pilihan ini tetap berada dalam struktur sosial yang menentukan siapa yang bisa mengakses dan memaknai gaya tersebut.
Baca juga: Sejauh Apa Sebuah Produk Dapat Mendefinisikan Kemewahan?

Dari masa ke masa, cara berpakaian masyarakat Indonesia tidak pernah benar-benar netral, karena selalu berada di antara pengaruh kekuasaan, perubahan ekonomi, dan negosiasi identitas. Apa yang kita kenakan mungkin terlihat sebagai pilihan pribadi, tetapi sering kali merupakan hasil dari sistem yang lebih besar yang membentuk cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Bagaimana menurut kamu?
Images: Potret Sejarah Indoensia, Masshiro & Co, Pexels


