Exciting News! Sekarang Kita Memasuki Era Indonesian Brands yang Lebih Desirable

Over the past few years, I noticed something interesting – there’s a shift in the wishlist of myself and people surrounding me! Indonesian brands are becoming much cooler. 

Kamu dengan mudahnya menemukan mereka yang hari ini menenteng tas C25, namun besok menggunakan tas Priel dengan bag charm yang menggambarkan karakteristik pemakai. Dan tentu, tas Peggy Hartanto yang stoknya diburu banyak pelanggan tak bisa saya lewat untuk disebutkan. 

Atau di hari ini menggunakan sepatu Loro Piana loafers or maybe the latest collections of Matthieu Blazy’s Chanel shoes, namun besoknya? Sepatu statement dari Christin Wu atau Jessica Priscilla bertengger manis di kaki. 

Ready to wear pun! Nampaknya sekarang banyak yang lebih cermat mengamati jenis bahan pakaian dan menelusuri apakah pembuatan pakaian tersebut bertanggung jawab pada lingkungan atau brand membayar upah yang pantas terhadap pembuat pakaian. Tak heran, brand seperti Sejauh Mata Memandang dan Sukkhacitta acap kali menjadi wishlist; selain tentu mengagumi kain dan hasil karya seniman dibalik setiap karyanya. Atau mungkin, mengagumi siluet desain Wilsen Willim dengan kincir yang ikonis, ketimbang menggunakan pakaian dengan logo yang recognizable. 

What does this imply? 

Mungkin yang kita saksikan saat ini adalah babak yang menarik untuk Indonesian brands. 

Dengan harga brand lokal yang saya sebutkan di atas yang tidak terjangkau, namun datang dengan craftmanship yang matang – Indonesian brands ini pun semakin banyak yang bisa menjadi pilihan menarik bagi kita. 

Banyak orang masih mengagumi luxury brands seperti Hermès, Chanel, atau Loro Piana tentu… Namun di saat yang sama, mereka juga dengan bangga menggunakan brand lokal. Bukan karena tidak mampu membeli luxury brands internasional, justru sering kali sebaliknya. Mereka memilih karena desainnya menarik, craftsmanship-nya bagus, mengagumi cerita dibalik brand tersebut, atau simply karena produk tersebut terasa lebih personal.

Ready To Wear Indonesian Brands

Hal yang sama terjadi pada ready-to-wear. Semakin banyak orang yang bertanya: bahannya apa? Siapa yang membuatnya? Apakah brand ini memperlakukan pengrajinnya dengan baik? Apakah proses produksinya bertanggung jawab? Questions that perhaps didn’t sit at the top of our shopping checklist a decade ago. Dulu, banyak local brands meminta dukungan dari konsumen. Hari ini, justru banyak konsumen yang aktif mencari mereka. Menunggu koleksi terbarunya. Membicarakannya dengan teman-teman. Menaruhnya di wishlist yang sama dengan brand-brand luxury global.

At the end of the day, yang menjadi pembeda bukan lagi sekadar kemampuan membeli sesuatu, tetapi kemampuan memilih sesuatu. Luxury hari ini bukan tentang memiliki barang yang paling mahal, brand yang instantly recognizable, melainkan memiliki taste, curiosity, dan awareness untuk menemukan hal-hal yang genuinely meaningful bagi diri kita sendiri. If luxury is ultimately about desire, then perhaps the most exciting thing happening right now is that local brands are becoming desirable, not because they’re Indonesian, but because they’re exceptional.

Image: Courtesy of Priel, Peggy Hartanto, Christin Wu, Jessica Priscilla, Wilsen Willim, Sejauh Mata Memandang, Sukkhacitta

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *