Ketika Hijab Mengikuti Hidup Perempuan, Bukan Sebaliknya

Setiap pagi, sebelum keluar rumah, kita (atau at least saya) sebenarnya membuat banyak sekali keputusan kecil. Well, iya sih kecil, tapi kadang ini yang paling menyita waktu kita di pagi hari: Mikir di depan lemari mau pakai baju apa.

Hari ini pakai apa? Meeting sama siapa? Bakal lebih banyak duduk di kantor atau harus ke luar? Setelah kerja ada dinner event? Cuaca panas nggak? Dan untuk perempuan berhijab, ternyata ada satu keputusan lain yang mungkin jarang dipikirkan oleh orang seperti saya yang tidak mengenakan hijab: hijab mana yang paling pas untuk menjalani hari ini?

Baca juga: Jakarta Modest Summit 2026: Merangkul dan Memperkuat Industri Modest Fashion di Tengah Tantangan

Awalnya saya pikir jawabannya akan sederhana. Bisa jadi pemilihan hijab ini hanya berdasarkan warna. Ternyata, pas saya menanyakan satu pertanyaan yang sama kepada beberapa teman kantor yang berhijab, ternyata jawabannya lebih kompleks. 

Saya bertanya, “Selain warna, apa yang paling menentukan pilihan hijab kamu setiap pagi saat mau berkegiatan?”

Hanif, misalnya, dia punya semacam mental wardrobe sendiri. Ketika ingin terlihat rapi, ia pilih bahan yang lebih jatuh. Untuk sesuatu yang effortless, pashmina yang flowy. Saat cuaca panas atau outfit-nya sudah cukup complicated, hijab segiempat paris yang ringan jadi pilihan. Silk material? That’s for her glam moment.

Kemudian ada Novi yang menjadikan pakaian yang ia kenakan jadi sebuah benchmark pas mau memilih hijab. Buat Novi, kemeja terasa lebih cocok dengan hijab instan yang rapi, sementara T-shirt membuatnya lebih memilih pashmina panjang. Vanny juga mempertimbangkan model sekaligus material, sementara Naura punya pertimbangan yang lebih fungsional: kalau hari itu akan banyak berada di luar ruangan, bahan yang adem dan tipis langsung jadi prioritas.

Dan akhirnya setelah mendengar jawaban mereka, saya menyimpulkan kalau memilih hijab itu ternyata beneran ada strateginya.

Strategi Perempuan dalam Memilih Hijab

UNIQLO Hijab

Yang menarik dari percakapan tersebut bukan hanya banyaknya pertimbangan dalam memilih selembar hijab. Ada jawaban yang menarik dari Naura, di mana ia bilang kalau ia hampir nggak pernah bawa hijab tambahan untuk berganti-ganti sepanjang hari. Pengecualiannya terjadi cuma pas aktivitasnya benar-benar berubah, misalnya selesai bekerja di kantor lalu setelahnya pergi lari sore di GBK.

Artinya pilihan hijab untuk kebanyakan perempuan tuh harus cocok dengan outfit, nyaman dengan aktivitas yang akan dilakukan, sesuai dengan cuaca, sekaligus memberikan look yang ingin ditampilkan.

Sebenarnya ini bukan sesuatu yang eksklusif terjadi pada hijab, karena perempuan non-hijab juga pasti punya strategi masing-masing kalau mau memilih pakaian yang bisa mengikuti kegiatannya di hari tersebut. Tapi bedanya, bagi perempuan berhijab ada satu layer tambahan yang harus ikut dipikirkan.

Baca juga: “Modern City Feelings” Jadi Cara UNIQLO Fall/Winter 2026 Mendefinisikan Gaya Urban

Inovasi Modest Fashion Melalui UNIQLO Hijab

Indonesia sebenarnya bukan pemain baru dalam percakapan modest fashion. Industri dan komunitasnya berkembang begitu cepat hingga pilihan bagi perempuan berhijab hari ini mungkin jauh berbeda dibandingkan satu atau dua dekade lalu.

Mulai dari warna baru, motif baru, bentuk pashmina baru, styling baru, sampai tren hijab yang bisa berubah hanya dalam hitungan bulan. Tapi obrolan dengan teman-teman saya tadi membuat saya berpikir: mungkin evolusi modest fashion berikutnya tidak selalu harus terlihat.

What if the innovation is about making hijab work better for the women who wear it? Mungkin nggak sih untuk membuat para pengguna hijab ini, justru pilihan fungsi juga ikut berkembang.

UNIQLO Hijab

Dan ternyata hal itu terjawab saat saya melihat koleksi UNIQLO Hijab. Bukan semata karena UNIQLO akhirnya membuat hijab, tapi justru yang paling menarik perhatian saya adalah, brand asal Jepang ini nggak cuma menghadirkan satu jenis hijab dalam berbagai pilihan warna.

Koleksi yang diluncurkan di Indonesia pada Agustus 2026 tersebut hadir dalam tiga pilihan dengan karakter material berbeda: Hijab AIRism Proteksi Sinar UV, Hijab Satin, dan Hijab Georgette. AIRism tersedia dalam delapan warna, Satin enam warna, sementara Georgette hadir dalam dua belas warna. Ketiganya dijual dengan harga Rp199.000,-.

UNIQLO Hijab

UNIQLO mengatakan koleksi ini dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan dan masukan pelanggan yang menginginkan hijab nyaman dan fungsional untuk berbagai aktivitas. Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi tiga material dengan karakter yang berbeda. Aesthetically, semua pilihannya memiliki desain polos, tapi koleksi UNIQLO Hijab ini benar-benar fungsional. 

Dan saya merasa bahwa di sinilah konsep LifeWear yang selama ini diusung oleh UNIQLO terasa cukup relevan untuk koleksi hijabnya. Well eventually pakaian yang kita kenakan setiap hari nggak cuma kelihatan bagus saja pas kita gantung di hanger atau cuma bagus pas kita pakai foto, tapi basically pakaian itu memang harus bisa menjadi suport yang baik bagi keseharian kita.

Setiap Hari Perempuan Punya Kebutuhan Berbeda

Dari percakapan sederhana dengan empat teman saya tadi, terlihat bahwa memang setiap hari mereka tidak mengenakan hijab yang sama, apalagi kalau memang aktivitasnya beragam. Selain itu pilihan material memang jadi salah satu faktor yang paling sering muncul ketika mereka menentukan hijab yang akan dikenakan.

UNIQLO Hijab

UNIQLO Hijab AIRism Proteksi Sinar UV misalnya, diarahkan untuk perempuan yang memang punya kebutuhan lebih aktif dan situasi ketika kenyamanan jadi prioritas. Untuk seseorang seperti Naura yang langsung mencari material adem dan tipis ketika tahu akan banyak berada di luar ruangan, fungsi seperti ini jadi terasa sangat relevan.

UNIQLO Hijab

UNIQLO Hijab Satin berbicara dengan bahasa yang berbeda. Karakternya lebih polished, sehingga lebih dekat dengan cerita Hanif tentang bagaimana ia memilih material tertentu ketika ingin terlihat lebih rapi atau bahkan silk untuk acara yang lebih glamorous.

UNIQLO Hijab

Sementara UNIQLO Hijab Georgette bisa terasa lebih playful, terutama untuk mereka yang suka bereksperimen dengan styling. Hijab berbentuk pashmina ini bisa ditata mengikuti karakter outfit yang sedang dipakai, sehingga bukan sekadar pelengkap, tapi ikut jadi bagian dari keseluruhan look.

Memang nggak bisa dipungkiri kalau tiga material tersebut bisa jadi tidak bisa menjawab seluruh kebutuhan perempuan berhijab. Tapi hal yang menurut saya lebih menarik justru UNIQLO nggak memberikan klaim bahwa mereka punya satu hijab yang bisa melakukan semuanya, tapi brand ini memperlihatkan bahwa women need different things dan koleksi ini bisa menjawab pertanyaan “Hijab mana yang paling pas buat saya pakai hari ini?”

Buat saya, setelah melihat koleksi UNIQLO Hijab dengan lebih detail, bisa dibilang perkembangan modest fashion juga nggak selalu harus hadir dalam bentuk tren baru atau sesuatu yang langsung terlihat berbeda. Tapi membuat beragam pilihan bagi para pengguna hijab juga bisa dibilang sesuatu yang sangat membantu aktivitas mereka sehari-hari.

I do believe that progress isn’t always about giving women more things to wear. Sometimes, it’s simply about giving them more ways to choose.

Images: Uniqlo Indonesia.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *