
Masih Relevankah Mendefinisikan Luxury Lewat yang Kita Lihat di Media Sosial?
Rutinitas kita saat pagi: bangun dan meraih ponsel, membuka media sosial lalu terpapar dengan banyak hal yang ada di sana.
Tas model terbaru, koleksi pakaian terkini dari rumah mode, semua dengan mudah kita akses dalam genggaman. Layar menjadi touch point pertama kita, kemudahan untuk berbelanja online pun menjadikan semakin mengikis bagaimana kita mengenal luxury brands. Pertimbangan untuk membeli sesuatu pun sering terasa dangkal, seperti bagaimana melihat selebritas atau influencer menggunakan suatu barang tanpa kita mencoba untuk mengenal brand tersebut, atau setidaknya mengevaluasi value yang kita miliki yang sekiranya akan membuat pembelian kita, bukan diputuskan sekadar karena pengaruh sosial.
Pada akhirnya, muncul pertanyaan penting: “Do we buy something because we truly love it, or simply because everyone else is wearing it?“
Ambil contoh dalam pemilihan model tas. Beberapa tahun lalu, saat saya dan suami saya berada di Plaza Indonesia, suami saya berceletuk “Ma, kok tas kamu sama tuh sama orang itu?”. Lucunya, memang tas yang saya pakai waktu itu — Goyard St. Louis Tote warna black tan — dipakai oleh beberapa orang yang saya lewati.

Awalnya, saya tidak terlalu memikirkan komentar tersebut (walaupun akhirnya saya decide untuk handpaint tasnya, biar beda) sampai akhir-akhir ini menyadari betapa “seragam” luxury brand yang menjadi wishlist khususnya bagi perempuan modern di Jakarta. Fenomena ini pun nampaknya tak hanya terjadi di Jakarta. Popularitas TV series Love Story menjadikan banyak wanita ingin berpakaian seperti mendiang Carolyn Bessette-Kennedy, termasuk mencari sunglasses Selima Optique atau Hermès Birkin size 40 atau bahkan Massai yang menjadi bagian dari wardrobe-nya.


Suatu hal yang saya sadari adalah bagaimana setiap individu memiliki gaya hidup yang berbeda, sehingga akan ada aspek-aspek berbeda untuk dipertimbangkan. Ukuran tas terlalu kecil yang dipakai oleh selebritas mungkin tak cocok untuk saya yang memiliki kebiasaan untuk cemplang-cemplung barang, misalnya. Belum lagi jenis bahan, fungsionalitas, seluruhnya sebetulnya dapat kita tentukan selama kita betul-betul mau lebih mindful apa yang sebetulnya kita butuhkan. Bukankah tas yang menjadi nyaman bagi seseorang, dipakai secara berulang justru yang menjadi signature style? Hal ini pun diamini oleh salah satu akun Instagram penjual Y2K bags — tas vintage — yang saya ikuti. Bags will be more personal.
Hal yang sama juga berlaku pada pakaian. Di luar warna dan tren, bagaimana sebuah pakaian jatuh di tubuh, bagaimana sebuah siluet terasa, atau bahkan brand apa yang kita pilih untuk kita asosiasikan dengan diri kita, pada akhirnya, membentuk semacam bahasa. Tidak selalu disadari, tapi selalu terbaca.
Di titik ini, luxury seharusnya mulai bergeser dari sekadar konsumsi menjadi refleksi. Bukan lagi tentang apa yang sedang banyak terlihat, tetapi tentang apa yang built to last dan menjadi bagian dari diri kita. Jika tidak, apa yang kita pilih hanya akan berhenti sebagai tren yang lewat, kita akan menjadi manekin berjalan tanpa makna, hanya sekadar memiliki barang yang mahal bukan gaya yang membekas. After all, signature style tidak pernah lahir dari apa yang paling sering kita lihat, melainkan dari apa yang secara sadar kita pilih untuk terus kita pakai.
Bagaimana menurut kamu?
Images: Courtesy of The Luxury Reports, Purseblog, Vogue


