
My First Designer Bag: A Hand-Me-Down Louis Vuitton Petit Noé
Kualitas dan cerita personal yang ternyata lebih mahal dari label harga apapun.
Sejak kecil, saya dan Mama sering pergi bersama. Ke mana pun kami pergi, Mama selalu membawa tas yang nggak terlalu besar, tapi muat segalanya. Dari topi untuk melindungi anak-anaknya dari terik matahari, botol minum, sampai lipstik merah yang ia simpan dalam makeup pouch.
Tas kulit yang bolak-balik Mama serut dan simpul itu ternyata melekat di keseharian saya. Ketika di bangku kuliah, saya baru tahu kalau ternyata jenis tas itu adalah bucket bag, dan punya Mama itu termasuk yang populer.

Louis Vuitton Petit Noé jadi designer bag pertama saya. A hand-me-down Louis Vuitton. Tas ini sangat spesial dengan tampilan kulitnya yang matang, tali serut yang worn-out, sampai dasar tas yang sudah menjadi saksi berbagai tumpahan cairan dan coretan bolpoin.
Petit Noé ini jadi satu dari sekian banyak tas yang Mama lungsurkan pada saya. Mungkin kalau sekarang sudah saling pinjam jadinya. Dari berbagai hand-me-down Mama yang bukan hanya tas, saya mengerti kalau true luxury itu bukan sekadar tren dan harga. Tapi juga tentang cerita, kualitas, dan rekam jejak di berbagai sudut tas itu mengingatkan saya sama Mama. Bahkan, ada foto Mama yang sedang pakai bucket bag kesayangan beliau ini sebelum anak-anaknya lahir ke dunia!
Secara nggak langsung, cara Mama bergaya juga terekam ke alam bawah sadar saya. Gayanya yang dulu cenderung boyish dan lebih cuek, justru muncul lagi di anak perempuannya. Dengan banyaknya sumber mencari inspirasi gaya sehari-hari, saya juga pede melakukan mix-and-match dengan cara berpakaian saya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, saya juga bertambah umur (dan bertambah koleksi tas-tas lainnya), jadi saya merotasi pemakaian tas sehari-hari, dan ada saatnya saya mengirimkan bucket bag ini untuk direparasi. Mengganti tali serutnya yang hampir putus, membersihkan gold-hardware biar balik lagi kinclong, atau diganti dengan hardware baru. Sekalian juga melakukan spa di tempat bag spa terpercaya. Nggak jauh beda sama kita yang sesekali perlu luluran, tas juga harus dirawat terus!

Sekarang, barang-barang hand-me-down disebut vintage. Saking banyaknya barang lungsuran yang muncul, bahkan dicari lagi, ada market yang khusus melayani para vintage hunter ini, lho. Pasar yang memang bergerak di second-hand luxury products ini mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir. Second-hand luxury memegang 12% dari luxury goods market. Hebatnya lagi, karena tren ini, banyak luxury fashion house yang kembali meluncurkan koleksi klasik dan vintage mereka.
Seperti Louis Vuitton Petit Noé Monogram ini, yang lebih dari satu dekade lalu pindah kepemilikan, dari Mama ke saya. Dan ini tidak berlaku hanya untuk tas, tapi ada juga koleksi ready-to-wear, sampai jam sekalipun.
Nggak cuma saya, teman dan sahabat saya juga merasakan hal yang sama. Banyak vintage pieces mereka yang merupakan hand-me-down dari ibu, tante, sampai oma mereka. Bahkan, sempat ada orang asing yang secara sopan bertanya apakah barang-barang tersebut dijual, karena mereka tertarik membeli dan mengoleksinya. Menarik, ya?
Kalau kamu, apa hand-me-down pertamanya?
Images: Courtesy of Louis Vuitton, Courtesy of The Luxury Reports








