
Permata yang Punya Cerita: Kenapa Gemstones Jadi Aksesori Favorit Belakangan Ini
Apakah kamu salah satu yang ikut tren penuh warna dan kilau ini?
Ada masanya ketika perhiasan terbaik adalah yang terkesan klasik, polished, dan versatile. Rantai tipis, anting berlian polos, tennis bracelet terlihat di mana-mana. Tapi belakangan ini, estetika tersebut mulai mendapat invasi warna-warni yang sebelumnya jarang terlihat.
Batu-batu permata kaya warna semakin sering muncul sebagai perhiasan statement. Bahkan berbagai artikel tren jewelry musim panas 2026 menempatkan colourful gemstones sebagai salah satu tren utama, dengan kombinasi warna dan batu yang lebih berani mulai menggantikan dominasi satu jenis intan.
Perubahannya juga sudah pasti terlihat di runway. Pada Spring/Summer 2026, Saint Laurent menghadirkan kalung bertabur manik-manik dan permata dengan warna cerah, sementara Simone Rocha bermain dengan bunga-bunga kristal dalam bentuk kalung besar dan asimetris. Di koleksi Spring/Summer lainnya juga terlihat safir, zamrud, amethyst, dan turquoise juga muncul dalam tampilan yang lebih sculptural.

Saint Laurent

Simone Rocha
Namun, daya tarik gemstones sebenarnya bukan sekadar karena warnanya lebih seru. Bebatuan ini memberi perhiasan sesuatu yang semakin dicari dalam fashion saat ini berupa sifat yang personal.
Sebuah zamrud bisa dipilih karena warnanya, safir karena kesan klasiknya, atau batu delima karena memancarkan energi yang lebih berani. Belum lagi kaitannya dengan birthstones, momen tertentu, atau sekadar warna favorit. Aksesori akhirnya bukan lagi terasa sebagai simbol status tetapi lebih menjadi cerminan personal pemakainya.
Di karpet merah, perubahan ini tentu ikut terlihat. Marisa Abela, misalnya, memadukan gaun hitam klasik dari Prada dengan “Cleopatra collar” emerald seberat 34 carats di BAFTA TV Awards 2026, sebuah perhiasan yang menjadikan warna dan bentuk batu sebagai pusat penampilan, bukan sekadar pelengkap.

Di Wimbledon, Lady Amelia Spencer memilih sebuah kalung safir, sementara saudara kembarnya, Lady Eliza Spencer, mengenakan kalung zamrud. Keduanya memadukan permata dengan outfit yang relatif kasual, membuat perhiasan terasa personal tanpa penampilan keseluruhan yang terlalu glamor.

Di tengah arus mode yang semakin individual, alur perhiasan pun otomatis bergeser ke arah yang lebih berwarna, imperfect, sentimental, dan sudah pasti unik. Karena pada akhirnya, jewelry terbaik bukan lagi yang paling mahal atau paling “aman”. It’s the ones that feel the most like you.
Images: Courtesy of Saint Laurent, Simone Rocha, Givenchy, Marisa Abela, Getty Images


