
Tak Rapi, Tak Masalah: Mengapa Imperfection Justru Menjadi Daya Tarik dalam Fashion
Gaya yang tidak terlalu polished atau neat justru punya keistimewaan tersendiri.
Ada sesuatu yang menjadi paradoks dalam proyeksi fashion, di mana kita biasanya menghabiskan banyak waktu untuk mencari pakaian dengan potongan paling presisi, jahitan paling rapi, dan tampilan akhir yang nyaris tanpa cela. Tapi di sisi lain, semakin banyak desainer yang justru tertarik pada hal-hal yang biasanya dianggap sebagai kekurangan, seperti benang yang keluar, pinggir kain yang mentah, permukaan yang terlalu berterkstur, hingga pakaian yang seolah belum selesai dengan sempurna. Mungkin karena sesuatu yang terlalu sempurna bisa terasa sedikit jauh dari kehidupan nyata.
Estetika imperfection ini sebenarnya bukan hal baru. Gagasan pakaian reconstructed sudah menjadi bagian penting di dunia fashion sejak tahun 1980 hingga 1990-an, terutama lewat desainer seperti Rei Kawakubo dan Martin Margiela. Namun. pendekatannya terus berubah. Jika dulu desain reconstructed terasa seperti pernyataan anti-fashion, sekarang justru ketidaksempurnaan itu bisa hadir dengan cara yang terasa jauh lebih halus.

Rei Kawakubo for Comme des Garçons
Di peragaan Miu Miu Fall/Winter 2026 misalnya, detail seperti ujung fur yang tampak terurai dan tekstur yang tidak terlalu rapi membuat pakaian terasa seperti sesuatu yang sudah melewati proses hidupnya sendiri. Sementara Comme des Garçons Spring/Summer 2026 kembali mempermainkan gagasan tentang bentuk yang seperti sengaja dirusak dan mengarah ke hasil yang tidak konvensional.

Miu Miu

Comme des Garçons
Ada pula pendekatan yang lebih kasual. Tepian kain yang dibiarkan unfinished dan tekstur denim yang dibuat usang membuat aturan baru di mana pakaian tidak lagi harus terlihat baru agar terlihat menarik. Justru kesan secondhand, ketidakteraturan, dan sedikit “cacat” bisa memberikan karakter yang kuat.
Pada akhirnya, mungkin ini bukan soal fashion yang tiba-tiba berhenti terobsesi pada kesempurnaan. Lebih tepatnya, definisi sempurna itu sendiri yang mulai bergeser. Kesempurnaan dan semua keteraturan telah dianggap melelahkan. Sebuah pakaian tidak harus terlihat mulus seperti brand new untuk dianggap indah. Imperfection adalah hal yang relatable, lebih manusiawi, dan lebih menyatu ke dalam keseharian. Kadang, justru detail kecil yang tidak sempurna itulah yang menjadi daya tarik khusus dan terlihat lebih lively.
Images: Courtesy of Met Museum, Miu Miu, WWD


