The Jennie Effect: Mengulas Relevansi Jennie Kim pada Kesuksesan Sebuah Brand

Tak bisa dipungkiri, Jennie memberi dampak besar bagi banyak brand yang ia bintangi.

Jennie Kim. Nama yang kian mengguncang dunia fashion di kancah global ini memang patut diakui sebagai sosok figur publik yang memainkan peran penting dalam melesatnya sebuah bisnis yang menggandeng dirinya. Mulai dari CHANEL yang setia menjadi pendampingnya di berbagai karpet merah yang ia jejaki, hingga sederet jenama lain yang namanya melesat bagai kilat berkat sentuhan pengaruh sang bintang.

Fenomena ini bahkan melahirkan istilah tersendiri di kalangan penggemar dan pelaku industri, yakni Jennie Effect. Sebuah sebutan untuk menggambarkan bahwa apa pun yang dikenakan atau dipromosikan oleh Jennie mampu memicu lonjakan minat publik dalam hitungan jam. Tak sekadar menghadirkan exposure, kehadiran Jennie juga kerap berujung pada peningkatan percakapan di media sosial, tingginya trafik website, hingga produk yang habis terjual dalam waktu singkat.

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, nama Jennie kini tak lagi dipandang hanya sebagai seorang musisi atau ikon fashion. Namanya telah menjelma menjadi aset strategis yang mampu menjembatani brand dengan generasi konsumen masa kini. Berbagai kolaborasi yang dijalankannya dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti bahwa pengaruh budaya populer dapat bertransformasi menjadi kekuatan bisnis yang nyata.

Salah satu contoh paling sukses datang dari kolaborasi Jennie dengan Gentle Monster. Pada 2020, brand kacamata asal Korea Selatan tersebut menggandeng Jennie untuk menghadirkan koleksi Jentle Home. Respons pasar saat itu begitu besar hingga sejumlah produk langsung terjual habis setelah peluncuran. Tingginya antusiasme penggemar bahkan membuat situs resmi Gentle Monster mengalami lonjakan trafik yang luar biasa. Kesuksesan tersebut berlanjut pada koleksi-koleksi berikutnya seperti Jentle Garden dan Jentle Salon, yang menuai respons sama besarnya di berbagai negara. Kemelekatan Jennie dengan Gentle Monster bahkan membuat banyak orang mengira bahwa Jennie adalah owner dari brand ini, padahal ia hanya brand ambassador-nya. Kini, setelah kontraknya berakhir dengan Gentle Monster, ia sudah terpilih menjadi wajah baru bagi Rayban.

Tidak hanya di industri mode, dampak Jennie juga terasa di sektor kecantikan. Sebagai wajah dari HERA, berbagai produk yang digunakan atau dipromosikannya kerap mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. Sejumlah produk riasan yang dikenakan Jennie dalam kampanye maupun penampilannya bahkan berulang kali terjual habis dan menjadi incaran konsumen, memperkuat reputasinya sebagai salah satu sold-out queen di industri beauty Korea Selatan.

Kesuksesan ini juga sama terbuktinya ketika Jennie berkolaborasi dengan Calvin Klein. Pada 2023, koleksi kapsul hasil kerja sama antara Jennie dan brand asal Amerika Serikat tersebut dilaporkan habis terjual dalam waktu singkat setelah peluncuran. Kampanye tersebut juga menghasilkan Media Impact Value (MIV) sebesar USD 8,6 juta atau setara lebih dari Rp140 miliar, menunjukkan bagaimana daya tarik Jennie mampu menciptakan exposure yang bernilai tinggi bagi sebuah brand.

Sementara itu, hubungan panjangnya dengan CHANEL menjadi contoh bagaimana seorang figur publik dapat membantu menjaga relevansi sebuah rumah mode mewah di tengah perubahan generasi konsumen. Sejak ditunjuk sebagai global ambassador pada 2017, Jennie berhasil memperkuat posisi CHANEL di kalangan Gen Z dan millenial, khususnya di pasar Asia. Julukan “Human Chanel” yang melekat padanya pun menjadi bukti kuat bagaimana identitas seorang selebritas dapat menyatu dengan citra sebuah brand.

Menariknya, pembahasan mengenai Jennie Effect tidak hanya muncul ketika sebuah brand menggandeng dirinya, tetapi juga ketika kerja sama tersebut berakhir. Salah satu contoh yang banyak diperbincangkan adalah IICOMBINED, perusahaan induk di balik Gentle Monster dan Tamburins.

Setelah bertahun-tahun menjadikan Jennie sebagai wajah utama kedua brand tersebut, IICOMBINED dilaporkan mengalami penurunan laba operasional sebesar 24,3 persen pada 2025. Penurunan ini menjadi sorotan karena terjadi setelah empat tahun perusahaan mencatat pertumbuhan yang konsisten. Berakhirnya kolaborasi Jennie dengan Gentle Monster dan Tamburins memunculkan diskusi di kalangan media serta pengamat industri mengenai besarnya kontribusi sang bintang terhadap pertumbuhan kedua brand tersebut selama beberapa tahun sebelumnya.

Tentu saja, performa sebuah perusahaan tidak dapat ditentukan oleh satu figur semata. Faktor ekonomi, strategi bisnis, kondisi pasar, hingga perubahan perilaku konsumen juga memegang peranan penting. Namun, fakta bahwa penurunan tersebut terjadi setelah berakhirnya kolaborasi yang begitu ikonis membuat banyak pihak kembali menyoroti besarnya pengaruh Jennie dalam membangun daya tarik dan relevansi sebuah brand.

Pada akhirnya, Jennie telah membuktikan bahwa peran seorang brand ambassador saat ini jauh melampaui sekadar menjadi wajah kampanye. Sosoknya mampu mengubah sebuah produk menjadi objek keinginan, menciptakan percakapan global, hingga menghadirkan dampak bisnis yang terukur. Di era ketika perhatian publik menjadi komoditas paling berharga, Jennie bukan hanya seorang selebritas atau ikon fashion, melainkan fenomena budaya yang telah menjelma menjadi salah satu aset pemasaran paling berpengaruh di dunia saat ini.

Sebagian orang bisa saja tidak menyukainya sebagai member BLACKPINK atau sebagai penyanyi, tapi sulit sekali untuk menyangkal bahwa sosoknya membawa influence yang nyata bagi industri fashion dan beauty. Bagaimana menurut kamu?

Images: Courtesy of Gentle Monster, Rayban, HERA, Calvin Klein, CHANEL, Tamburins

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *