Tubuh, Tren, dan Standar Ideal: Perjalanan Panjang Cara Perempuan Berpakaian

Perubahan cara berpakaian perempuan tidak pernah berdiri sendiri. Perubahan ini selalu bergerak mengikuti zaman, posisi sosial, hingga cara masyarakat memandang tubuh perempuan itu sendiri. Apa yang hari ini dianggap biasa, pada masanya pernah menjadi sesuatu yang kontroversial, bahkan tabu. Dari perempuan yang mulai mengenakan celana panjang dan setelan jas di ruang publik hingga kemunculan tren naked dressing yang semakin dominan di red carpet modern, fashion perempuan terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Jika kita melakukan kilas balik, pada awal abad ke-20, perempuan masih berada dalam ekspektasi berpakaian yang cukup ketat. Rok panjang, korset, dan siluet feminin dianggap sebagai standar ideal perempuan pada masa itu. Celana panjang bahkan sempat dipandang tidak pantas dikenakan perempuan karena terlalu identik dengan maskulinitas dan dunia kerja laki-laki. Namun perubahan mulai terjadi ketika semakin banyak perempuan memasuki ruang publik dan dunia kerja, terutama setelah Perang Dunia I dan II. Kondisi tersebut memaksa perempuan mengambil peran yang sebelumnya didominasi laki-laki, termasuk dalam aktivitas yang membutuhkan pakaian lebih praktis dan fungsional.

Di tengah perubahan itu, Coco Chanel menjadi salah satu figur penting yang membantu menggeser cara berpakaian perempuan. Chanel memperkenalkan siluet yang lebih sederhana, longgar, dan nyaman, sekaligus mengambil inspirasi dari pakaian pria. Meski belum sepenuhnya menghadirkan setelan formal seperti yang dikenal sekarang, pendekatan Chanel membuka jalan bagi perempuan untuk berpakaian lebih bebas tanpa harus selalu terikat pada standar feminin yang kaku.

Transformasi tersebut mencapai titik penting ketika Yves Saint Laurent meluncurkan Le Smoking pada 1966, tuxedo pertama yang dirancang khusus untuk perempuan. Kehadiran setelan jas ini menjadi momen besar dalam sejarah fesyen perempuan karena untuk pertama kalinya tuxedo, simbol formalitas dan kekuasaan laki-laki, diadaptasi ke dalam tubuh perempuan tanpa menghilangkan kesan elegan. Pada masa itu, perempuan yang mengenakan tuxedo bahkan masih kerap ditolak masuk ke restoran atau ruang publik tertentu karena dianggap melanggar norma berpakaian.

Namun justru dari sana, setelan jas mulai berkembang menjadi simbol baru. Jas atau tuxedo bukan lagi sekadar pakaian kerja, tetapi representasi dari perempuan modern yang ingin terlihat setara di ruang profesional. Memasuki era 1980-an, tren power dressing semakin kuat seiring meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di sektor korporat dan bisnis.

Siluet bahu tegas, tailoring kaku, dan setelan monokrom menjadi ciri khas era tersebut. Desainer seperti Giorgio Armani turut mempopulerkan tailoring perempuan dengan pendekatan yang lebih modern dan minimal. Cara berpakaian ini merefleksikan perubahan posisi perempuan dalam dunia kerja. Untuk bisa diterima di lingkungan profesional yang maskulin, perempuan sering kali merasa perlu mengadopsi visual yang juga menunjukkan otoritas dan ketegasan. Dalam konteks ini, fashion menjadi alat negosiasi sosial sekaligus simbol ambisi.

Meski begitu, perubahan gaya berpakaian perempuan tidak berhenti pada upaya terlihat “setara” dengan laki-laki. Seiring waktu, fashion mulai bergerak ke arah yang lebih personal dan ekspresif. Jika power dressing berbicara tentang bagaimana perempuan ingin diakui di ruang publik, maka tren naked dressing yang kini lazim kita lihat di berbagai peragaan busana maupun acara formal, justru banyak berbicara tentang bagaimana perempuan ingin mengontrol tubuh dan citra mereka sendiri.

Istilah naked dressing sendiri mengacu pada gaya berpakaian yang menggunakan material transparan, potongan terbuka, atau ilusi tubuh telanjang. Meski kini identik dengan tampilan glamor di red carpet, akar estetikanya sudah muncul sejak dekade 1960-an dan 1970-an. Salah satu contoh paling ikonis datang dari Cher melalui rancangan Bob Mackie yang terkenal berani dengan material sheer, kristal, dan siluet tubuh yang sangat terekspos. Penampilan tersebut menjadi kontroversial pada masanya karena dianggap terlalu vulgar, tetapi juga membuka diskusi baru tentang tubuh perempuan dalam fashion.

Pada dekade berikutnya, desainer seperti Jean Paul Gaultier dan Thierry Mugler semakin mendorong eksplorasi tubuh perempuan lewat rancangan yang teatrikal, sensual, dan provokatif. Tubuh tidak lagi disembunyikan, melainkan dijadikan bagian utama dari pernyataan visual. Kini, tren tersebut kembali berkembang melalui budaya pop dan media sosial, dikenakan oleh banyak figur publik di red carpet maupun kampanye fashion masa kini.

Namun seperti halnya tren fashion lain, naked dressing juga menghadirkan perdebatan. Di satu sisi, gaya ini dianggap sebagai bentuk kebebasan dan reclaiming terhadap tubuh perempuan. Perempuan memiliki kontrol lebih besar atas bagaimana mereka ingin tampil dan dilihat. Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan apakah eksplorasi tubuh dalam fashion benar-benar lahir dari kebebasan personal, atau justru masih berada dalam tekanan standar kecantikan dan budaya visual yang terus menuntut perempuan untuk tampil menarik?

Pada akhirnya, perubahan gaya berpakaian perempuan selalu berbicara tentang lebih dari sekadar estetika. Dari setelan jas yang dulu dianggap tabu hingga naked dress yang kini menjadi simbol keberanian modern, fashion terus menjadi ruang di mana perempuan menegosiasikan identitas, kuasa, dan kebebasan mereka sendiri. Apa yang dikenakan perempuan mungkin terlihat seperti pilihan personal, tetapi sejarah menunjukkan bahwa pilihan tersebut selalu berkaitan dengan perubahan sosial dan cara masyarakat memandang perempuan dari waktu ke waktu.

Images: Dok. Istimewa

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *