Mengurai Paradoks di Balik Klaim ‘Sustainable’ Fast Fashion

Industri fashion tengah berada di titik yang menarik, atau mungkin, kontradiktif. Di satu sisi, fast fashion terus bergerak semakin cepat, didorong oleh siklus tren yang semakin singkat dan produksi dalam skala masif.

Di sisi lain, mereka juga turut mengadopsi narasi sustainable dengan menawarkan koleksi yang diklaim lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan: can fast fashion ever be sustainable? Atau, apakah ini sekadar upaya industri untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman tanpa benar-benar mengubah fondasinya?

Baca juga: Tertarik Berkarier di Sustainable Fashion? Arc’teryx dan Hermès Mungkin Sedang Mencari Kamu

Defining “Sustainable”: Lebih dari Sekadar Label

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “sustainable” telah menjadi salah satu kata paling sering digunakan dalam industri fashion. Namun, di balik popularitasnya, definisi sustainability sering kali disederhanakan, misal, hanya pada penggunaan material yang dianggap lebih ramah lingkungan, seperti recycled fabrics atau organic cotton. Padahal, sustainability dalam konteks fashion jauh lebih kompleks.

Secara menyeluruh, sustainability mencakup seluruh siklus hidup sebuah produk: mulai dari sumber bahan baku, proses produksi, kondisi tenaga kerja, distribusi, hingga bagaimana produk tersebut digunakan dan pada akhirnya dibuang. Artinya, sebuah brand tidak dapat disebut benar-benar sustainable hanya karena meluncurkan satu lini koleksi eco-friendly, sementara sebagian besar operasionalnya masih bergantung pada produksi massal dan siklus konsumsi yang cepat.

Baca juga: Fashion’s Future is Changing, Sustainability is at The Center of It

Lebih jauh lagi, sustainability juga berkaitan erat dengan durabilitas dan pola konsumsi. Produk yang dirancang untuk bertahan lama, baik dari segi kualitas maupun relevansi desain, secara umum lebih sustainable dibandingkan produk yang ditujukan untuk tren jangka pendek. Oleh karena itu, sustainability tidak hanya menjadi tanggung jawab produsen, tetapi juga menantang cara konsumen memaknai dan mengonsumsi fashion.

fast fashion, sustainable fashion

Dibangun untuk Kecepatan dan Skala

Jika sebelumnya brand fashion tradisional umumnya hanya merilis sekitar dua hingga empat koleksi utama dalam setahun mengikuti kalender Spring/Summer dan Fall/Winter, fast fashion kini bekerja dalam ritme yang jauh lebih agresif. Beberapa fast fashion brand bahkan disebut merilis lebih dari 52 “micro-seasons” atau koleksi kecil setiap tahunnya, sementara Zara sendiri diketahui memperkenalkan ribuan desain baru setiap tahun dengan pembaruan produk yang berlangsung hampir setiap minggu. 

Kecepatan pun tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dengan volume produksi yang sangat tinggi dan harga yang relatif rendah, menciptakan siklus konsumsi yang mendorong pembelian berulang. Konsumen tidak lagi membeli pakaian semata untuk kebutuhan, tetapi juga untuk terus mengikuti tren yang bergerak cepat. Siklus ini dapat terus berjalan karena fast fashion menawarkan harga yang cenderung terjangkau.

Baca juga: Digital Product Passport: What It Is and Why It Matters

Namun, di balik harga murah tersebut, terdapat konsekuensi yang sering kali tidak terlihat oleh konsumen, terutama terhadap para pekerja yang berada di baliknya: upah rendah, kondisi kerja yang tidak selalu layak, serta minimnya perlindungan hak tenaga kerja. Model bisnis ini menggeser cara fashion dikonsumsi: dari sesuatu yang sebelumnya bersifat lebih tahan lama dan personal, menjadi komoditas yang cepat digantikan. Fast fashion menjadi industri yang secara aktif mendorong disposability sebagai budaya konsumsi.

Ketika Fast Fashion Mulai “Berubah” Arah

Seiring meningkatnya kesadaran akan isu lingkungan dan sosial, industri fast fashion pun mulai terlihat menunjukkan tanda-tanda perubahan. Brand besar seperti H&M muncul dengan lini Conscious, Zara melalui inisiatif Join Life, hingga Shein dengan kampanye evoluSHEIN, yang mengomunikasikan berbagai upaya keberlanjutan sebagai respons terhadap konsumen yang semakin kritis terhadap dampak industri fashion. Bentuknya pun beragam, mulai dari penggunaan material yang diklaim lebih ramah lingkungan, program daur ulang atau take-back, hingga komitmen untuk menurunkan emisi dalam rantai pasok.

Baca juga: Sustainable Fashion: Saatnya Beralih dari “Nice to Have” ke “Must-Have”

Secara sekilas, langkah-langkah ini mencerminkan adanya kesadaran dan kemauan untuk berubah dari brand-brand yang selama ini menjadi bagian besar dari dampak industri fashion. Namun, penting untuk melihat skala dari inisiatif tersebut. Dalam banyak kasus, koleksi “sustainable” ini hanya merepresentasikan sebagian kecil dari total produksi, sementara model bisnis utamanya, bertumpu pada kecepatan, volume tinggi, dan konsumsi masif, tetap berjalan seperti biasa. Di titik ini, apa yang terlihat sebagai progres mulai terlihat lebih sebagai perbaikan di permukaan dibanding transformasi sistem.

Can Fast Fashion Ever be Sustainable?

Jika dilihat dari berbagai inisiatif yang ada, fast fashion memang menunjukkan upaya untuk menjadi lebih baik, atau setidaknya less harmful dibandingkan sebelumnya. Penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, efisiensi produksi, hingga transparansi rantai pasok merupakan langkah yang tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Namun, pertanyaannya, apakah berbagai inisiatif ini merupakan langkah awal menuju perubahan yang lebih menyeluruh di masa depan, atau tetap berjalan di samping model bisnis fast fashion yang pada dasarnya tetap sama?

Di sinilah paradoks utama dalam industri fast fashion terlihat semakin jelas. Di satu sisi, sustainability menuntut efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, serta pendekatan yang lebih mindful terhadap produksi dan konsumsi. Di sisi lain, fast fashion dibangun di atas kecepatan dan skala. Model bisnisnya bergantung pada produksi dalam jumlah besar, pergantian tren yang sangat cepat, serta konsumsi yang terus berulang.

Selama fondasi bisnis ini tidak berubah, dampak lingkungan dan sosial akan tetap menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari industri tersebut. Oleh karena itu, untuk benar-benar selaras dengan prinsip sustainability, industri perlu memproduksi lebih sedikit, memperlambat siklus koleksi, serta mendorong pola konsumsi yang lebih sadar dan berorientasi jangka panjang.

Dengan kata lain, selama model bisnisnya masih berjalan secara “fast,” sustainable fashion akan sulit diwujudkan secara utuh. Perubahan yang dibutuhkan tidak lagi sebatas inisiatif tambahan, melainkan transformasi menyeluruh terhadap model bisnis fast fashion itu sendiri.

Images: courtesy of Sukkha Citta, Unsplash, Live Frankly, Google.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *